Serangan itu dilakukan oleh pria bersenjata yang menenteng senjata semi-otomatis. Mereka menyerang umat Muslim yang menghadiri sholat Jumat di Christchurch di Pulau Selatan Selandia Baru pada 15 Maret lalu.
Akibat serangan massal itu, 51 orang meninggal dunia. Sadisnya, penyerang menyiarkan penembakan secara langsung di Facebook, dan rekamannya dibagikan secara luas.
Sebagian besar situs web dengan cepat menghapus tautan ke video tersebut. Tetapi komisioner eSafety Australia Julie Inman Grant mengatakan, delapan situs lokal telah menentang permintaannya agar kontennya dihapus.
"Kami tidak dapat membiarkan materi keji ini digunakan untuk mempromosikan, menghasut, atau menginstruksikan tindakan teroris lebih lanjut," kata Grant dalam sebuah pernyataan, seperti dimuat
Reuters.
Akhirnya, pemerintah Australia melakukan pemblokiran delapan situs web tersebut untuk menekan berbagi konten kekerasan secara online.
BERITA TERKAIT: