Kim Jong Un dan Moon Jaein akhirnya mau melakukan pembicaraan langsung seperti yang direncanakan di Panmunjeom, Jumat (27/4).
"Ketegangan di Semenanjung Korea adalah buah dari pertarungan kekuatan asing di kawasan itu sejak Perang Dunia Kedua usai. Pertemuan Kim Jong Un dan Moon Jaein diharapkan bisa memperbaiki status hubungan kedua negara. Bagaimanapun, kedua Korea pernah bersatu sebelum dicabik-cabik kolonial," jelas Sekjen Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea, Teguh Santosa, dalam keterangan yang diterima redaksi (Kamis, 26/4).
Dosen Hubungan Internasional di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta ini memang mengikuti konflik Korea dari dekat. Setiap tahun dirinya mengunjungi Pyongyang. Kunjungan pertama ke Pyongyang dilakukan di tahun 2003, tak lama setelah Presiden Amerika Serikat kala itu, George W. Bush menuding Korea Utara sebagai anggota poros setan bersama Iran dan Irak.
Atas perhatiannya yang cukup dalam pada isu Korea, tahun 2017 lalu Teguh mendapatkan Bintang Kehormatan dari pemerintah Korea Utara.
"Tahun 2000 dan 2007 pemimpin Korea Selatan, Kim Daejung dan Roh Moohyun, bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Il. Pembicaraan ke arah penyatuan kedua negara dalam bentuk konfederasi sudah dilakukan. Tapi kembali berantakan karena intervensi kekuatan asing," ujar Sekretaris Bersama Reunifikasi Damai Korea Wilayah Asia Pasifik ini.
"Agar pertemuan Kim Jong Un dan Moon Jaein bisa menghasilkan perdamaian abadi saya minta Donald Trump tidak ngerecoki," imbuhnya.
Teguh berharap dalam pertemuan nanti Kim dan Moon bersedia mengakhiri perjanjian gencatan senjata dan menandatangi perjanjian damai.
[sam]
BERITA TERKAIT: