Peristiwa yang terjadi di distrik Sandakan pada Minggu dini hari, 19 April 2026 itu memaksa ratusan orang kehilangan tempat tinggal dalam sekejap.
Laporan kantor berita
Bernama menyebutkan, otoritas menerima informasi kebakaran sekitar pukul 1.32 pagi waktu setempat.
Api dengan cepat membesar dan menjalar ke bangunan lain, mengingat kondisi permukiman yang padat dan didominasi material mudah terbakar.
Kepala pemadam kebakaran distrik Sandakan, Jimmy Lagung, menjelaskan bahwa faktor alam turut memperburuk situasi.
“Angin kencang dan jarak antar rumah yang berdekatan menyebabkan api menyebar dengan cepat, sementara kondisi air surut juga mempersulit pencarian sumber air terbuka," ujarnya.
Kebakaran ini melanda kawasan water village, yakni permukiman rumah panggung yang berdiri di atas air. Wilayah tersebut dikenal sebagai hunian bagi kelompok masyarakat rentan, termasuk komunitas adat dan warga tanpa kewarganegaraan, sehingga dampaknya semakin memperparah kondisi sosial para korban.
Sebanyak 445 orang dilaporkan telah mengungsi ke pusat penampungan sementara di Sandakan. Angka ini masih bersifat sementara, seiring proses pendataan korban yang terus dilakukan oleh otoritas setempat.
Ketua Komite Penanggulangan Bencana Distrik Sandakan, Datuk Walter Kenson, menegaskan bahwa hasil pemeriksaan menunjukkan rumah-rumah warga yang terdampak sudah tidak layak huni.
Sementara itu, Perdana Menteri Anwar Ibrahim memastikan pemerintah pusat bergerak cepat berkoordinasi dengan otoritas Sabah untuk menyalurkan bantuan dasar dan menyiapkan relokasi sementara.
“Prioritas utama saat ini adalah keselamatan para korban dan bantuan segera di lokasi kejadian," tulisnya melalui unggahan di Facebook.
BERITA TERKAIT: