Demonstrasi terus terjadi meski Ortega mencabut resolusi reformasi sistem pensiun.
Seperti dikutip
AFP, unjuk rasa di Nikaragua, Senin (23/4) meÂnewaskan sedikitnya 27 orang. Puluhan ribu orang tumpah ke jalanan Managua, ibu kota Nikaragua. Mereka mendesak Pemerintah Nikaragua berhenti menekan demonstran dengan kekuatan militer.
Massa terdiri dari kaum pekerÂja, mahasiswa, pebisnis dan warga biasa. Mereka membawa bendera Nikaragua di jalanan ibu kota. Mereka menyanyikan lagu nasional sembari mendesak peÂmerintah segera membebaskan demonstran yang ditahan.
Sejumlah mahasiswa yang memimpin protes bertekad melanjutkan aksi hingga OrÂtega dan istrinya, Wakil Presiden Rosario Murillo, lengser.
Untuk menenangkan pengunÂjuk rasa, Ortega dan Murillo menggelar konferensi pers yang intinya adalah janji membebasÂkan tahanan. Murillo menegasÂkan kesempatan dialog tetap terbuka dan semua masalah bisa dibicarakan.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menyeruÂkan dialog untuk mengakhiri konflik dan memulihkan HAM. ASmendesak pemerintah Nikaragua membiarkan media bekerja dengan bebas.
"Kami mengecam kekerasan dan kekuatan berlebihan yang digunakan kepolisian dan lainÂnya pada warga sipil yang mengÂgunakan hak mereka untuk berkumpul dan mengungkapkan pendapat dengan bebas," ujar juru bicara Deplu AS Heather Nauert.
Aksi kekerasan ini menjadi yang paling mematikan di NikaraÂgua sejak Presiden Daniel Ortega menjabat pada 2007. Protes meÂletus usai Ortega mengesahkan resolusi reformasi pensiun.
Pencabutan resolusi telah diuÂmumkan Minggu (22/4).
"Resolusi yang baru saja disetujui Dewan Keamanan Sosial resmi dicabut, yang berarti, itu dibatalkan," kata Ortega. ***
BERITA TERKAIT: