Ekosistem logistik pada dasarnya bisa terbentuk secara alami. Arus akan mengikuti efisiensi, pelaku usaha akan bergerak menuju kepastian, dan shipping line akan memilih rute yang paling rasional secara bisnis. Namun proses alami ini membutuhkan waktu yang tidak singkat.
Dan dalam konteks kompetisi global, waktu yang terlalu panjang adalah kemewahan yang tidak selalu kita miliki.
Di sinilah peran Pemerintah menjadi krusial.
Akselerasi kematangan ekosistem tidak bisa hanya diserahkan pada mekanisme pasar. Pemerintah memiliki instrumen yang cukup--baik dalam bentuk kebijakan, insentif, penataan arus, maupun intervensi terukur--untuk mempercepat terbentuknya keseimbangan baru.
Namun akselerasi tidak akan efektif tanpa satu hal penting: adanya “dirigen” yang mampu mengorkestrasi seluruh kepentingan yang terlibat.
Dirigen ini tidak cukup hanya memahami aturan dan teori. Ia harus memahami perilaku pasar--bagaimana shipping line mengambil keputusan, bagaimana cargo owner menentukan pilihan, serta bagaimana pelaku logistik merespons risiko dan biaya. Tanpa pemahaman ini, kebijakan yang dibuat berpotensi tidak menyentuh titik keputusan yang sebenarnya.
Tanpa dirigen yang tepat, ekosistem akan berjalan sendiri-sendiri.
Dan di fase awal, tantangan terbesarnya justru bukan teknis--melainkan ego sektoral.
Seluruh
members of ecosystem harus menyadari bahwa pada tahap awal, keberhasilan tidak bisa dicapai tanpa kompromi. Dibutuhkan
willingness to sacrifice sampai batas tertentu. Tidak semua pihak bisa langsung berada pada posisi optimal sejak hari pertama.
Ketika setiap pihak terlalu cepat menghitung untung-rugi jangka pendek--seperti yang sering terlihat pada sebagian BUP maupun mitra usaha--maka harmonisasi langkah akan sulit tercapai. Padahal tanpa harmoni, ekosistem tidak akan pernah benar-benar terbentuk.
Tanpa kesediaan untuk sedikit mundur di awal, tidak akan ada lompatan ke depan.
Namun ada satu hal yang perlu ditekankan dalam konteks Patimban saat ini.
Perencanaan pembangunan harus tetap inklusif, bahkan dalam fase akselerasi.
Karena persoalannya bukan lagi pada apa yang dibangun, tetapi bagaimana memastikan yang sudah terbangun segera berfungsi dan menghasilkan arus.
Di titik ini, seluruh elemen ekosistem--
shipping line, cargo owner, pelaku logistik, BUP, regulator, hingga konektivitas hinterland--harus ditarik masuk dalam satu orkestrasi.
Tanpa itu, risiko yang sama akan terulang: infrastruktur tersedia, tetapi arus tidak terbentuk.
Sebaliknya, dengan pendekatan yang inklusif dan terarah, akselerasi bisa terjadi--arus mulai bergerak, kepercayaan tumbuh, dan utilisasi meningkat.
Karena pada akhirnya, pelabuhan tidak akan tumbuh hanya karena ia dibangun.
Ia akan tumbuh ketika seluruh ekosistem dipersiapkan untuk bergerak bersama--dan ketika waktu tidak dibiarkan berjalan sendiri, tetapi dikelola untuk mempercepat perubahan.
Bambang Sabekti
Praktisi kepelabuhanan dan logistik nasional
BERITA TERKAIT: