Berthonnet menjadi duta besar pertama yang memasuki gedung utama Kemlu. Dia daÂtang pada pukul 10.15 WIB. Dubes Malik menyusul kemuÂdian. Sekitar pukul 10.25 WIB datang Dubes Donovan.
Ketiganya kompak berjas geÂlap dan memasang wajah serius saat memasuki gedung utama Kemlu. Mereka menemui MenÂteri Luar Negeri Retno Marsudi atas insiatif sendiri.
"Kami sengaja datang untuk mengajak Indonesia bergabung bersama kami, untuk menekan Presiden Bashar al Assad dan sekutunya untuk menghentikan pemakaian senjata kimia," tegas Dubes Malik.
Dia menekankan, saran ini sudah pernah disinggung dalam pertemuan dengan Menlu Retno pekan lalu.
"Iya (membahas soal Suriah). Kami ingin Indonesia mau memÂbantu mendesak Suriah dan seÂkutunya mau bertanggung jawab atas korban serangan senjata kimia," sambung Malik.
Dia menyebut Indonesia memiÂliki andil karena termasuk dalam Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW).
"Kami memanggil Indonesia sebagai calon dewan eksekutif OPCW untuk bergerak meÂnekan Suriah dan sekutunya untuk memberi akses kepada tim penyidik independen untuk memeriksa wilayah Douma," jelas Malik.
Menambahkan, Dubes DonoÂvan menyebut, yang bersalah adalah rezim pemerintahan AsÂsad. Kata dia, Assa telah berkaÂli-kali menyerang rakyatnya sendiri dengan senjata kimia. Padahal, kata dia, penggunaan senjata kimia dilarang PerserikaÂtan Bangsa-Bangsa (PBB).
"Serangan pasukan kami beÂberapa hari lalu adalah bentuk komitmen kami untuk memastiÂkan larangan ini dipatuhi," tegas Donovan.
Sebelumnya, Pemerintah InÂdonesia menyampaikan rasa prihatin atas serangan koalisi AS ke Douma akhir pekan lalu. Indonesia mengimbau agar semua pihak menahan diri dan mencegah memburuknya situasi di Suriah.
Meski demikian, Donovan menyebut, tekanan kepada Suriah perlu dilakukan. "Karena mereka sudah menandatangani konvensi pelarangan senjata kimia pada 2003. Mereka tidak menjalankan komitmen mereka. Ini perlu diteÂgur," sahut Dubes Berthonnet.
Berthonnet menyampaikan keinginannya agar Suriah tidak lagi melewati batas dalam mengÂhadapi konflik sosial.
"Jika mereka kelewat batas, kami akan ingatkan dengan tegas seperti yang sudah-sudah," tegas Berthonnet.
Seperti diketahui, akhir pekan lalu, Amerika Serikat, Prancis dan Inggris melakukan serangan beÂsar-besaran terhadap Suriah. KeÂtiganya menyatakan, serangan itu menargetkan fasilitas kimia milik pemerintah Suriah, yang diduga sebagai pusat pengembangan dan produksi senjata kimia.
Serangan ini mendapat dukungan kuat dari negara Eropa dan Barat. Negara Eropa dan Barat menyatakan, serangan kepada pemerintahan Assad diperlukan untuk memberikan peringaÂtan, bahwa penggunaan senjata kimia tidak bisa dimaafkan. SeÂmentara itu, sekutu Suriah, yakni Rusia dan Iran mengecam keras serangan tersebut. ***
BERITA TERKAIT: