Dalam suasana akrab dan bersahaja, Menristekdikti mendengarkan dengan ta’zim berbagai pengalaman dan curhatan mahasiswa Indonesia di Korea Selatan. Intinya ia menekankan kultur pendidikan di Korea Selatan seharusnya membuat para mahasiswa Indonesia menjadi tangguh dan mandiri.
Di akhir acara, Menristekdikti memberikan lima pesan berharga. Dikatakan, mahasiswa tidak perlu risau ilmunya tidak bisa diaplikasikan di Indonesia.
"Setelah lulus nanti, jangan berfikir akan mendapatkan kerja apa, tetapi fikirkan untuk membuka lapangan pekerjaan baru dengan inovasi dan kebutuhan yang ada di masyarakat," demikian pesan pertamanya.
Kedua, agar seluruh mahasiswa Indonesia yang ada di Korea Selatan, terutama yang belajar dengan menggunakan skema beasiswa, untuk memanfaatkan beasiswanya seoptimal mungkin, dan memberikan sumbangsih kepada bangsa Indonesia melalui prestasi.
Ketiga, dimanapun mahasiswa berada harus berusaha mencapai prestasi yang maksimal. "Prestasi mahasiswa adalah ujung tombak untuk menjadi bangsa pemenang," katanya.
Keempat, Menristekdikti janjikan kepada para mahasiswa berprestasi yang memiliki inovasi berupa bantuan dana bagi pengembangan berikutnya. Bahkan Menristekdikti menekankan bahwa hak atas kakayaan intelektual bagi berbagai inovasi tersebut nantinya akan menjadi milik para innovator itu sendiri, bukan bukan milik pemerintah.
Terakhir, ia berpesan kepada para mahasiswa untuk kembali ke Indonesia setelah mereka menyelesaikan pendidikannya. “Masih banyak peluang bisnis potensial untuk dikembangkan di Indonesia, khususnya yang berbasis internet,†demikian pungkas Menristekdikti.
Pertemuan Menristekdikti yang difasilitasi oleh KBRI Seoul berjalan dengan suasana akrab layaknya pertemuan ayah dan anak-anaknya yang terpisah sekian lama. Sambil menyeruput kuah sup daging, Menteri Nasir tekun menyimak berbagai hal yang diungkapkan oleh mahasiswa dan sesekali tersenyum dan kadang pula tergelak.
Mahasiswa Indonesia yang sebagian besar adalah pengurus Persatuan Pelajar Indonesia di Korea Selatan (Perpika) tersebut merasa beruntung dapat bertemu wajah dan berbincang akrab dengan Menteri yang cikup menginspirasi ini.
"Hanya disini saya bisa bertemu Pak Menteri, kalau di Jakarta mungkin akan sulit sekali," tutur Bima Bhaskara, Wakil Presiden 1 Perpika.
Menurut pejabat KBRI Seoul, Purno Widodo, Menristekdikti kembali ke tanah air pada hari ini (Kamis, 23/11). ASEMME6 sendiri telah ditutup secara resmi pada tanggal 22 November 2017 dengan penyerahan secara resmi ASEM Education Secretariat dari Pemerintah Indonesia yang diwakili Menristekdikti kepada pemerintah Belgia yang akan menjadi tuan rumah untuk periode 2017 – 2021.
[wid]
BERITA TERKAIT: