Pada penutupan Sesi I, indeks parkir di zona merah dengan koreksi tajam 206,81 poin (-3,48 persen) ke level 5.734,26.
Kepanikan pasar tercermin dari sepinya emiten yang selamat, di mana 716 saham tumbang, 175 saham jalan di tempat, dan hanya 68 saham yang mampu bertahan di zona hijau.
Aktivitas perdagangan terhitung sangat masif dengan nilai transaksi menembus Rp12,72 triliun (volume 20,87 miliar lembar saham, frekuensi 1,36 juta kali), yang sekaligus menguras kapitalisasi pasar (market cap) hingga Rp364 triliun hanya dalam setengah hari.
Hampir seluruh sektor ambruk dihantam tekanan jual. Sektor properti dan bahan baku menjadi korban koreksi terdalam, sementara sektor teknologi mencatatkan penurunan paling minim.
Kejatuhan IHSG siang ini utamanya terseret oleh rontoknya saham-saham perbankan raksasa (Big Banks) serta sejumlah emiten berkapitalisasi besar lainnya.
Duo raksasa perbankan, Bank Central Asia (BBCA) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI), langsung menduduki peringkat teratas penyeret indeks dengan kontribusi negatif masing-masing sebesar -18,74 poin dan -17,25 poin.
Kondisi ini diperparah oleh tekanan jual pada emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu, Barito Pacific (BRPT), yang menyumbang pelemahan sebesar -10,13 poin.
Selain itu, Astra International (ASII) turut membebani indeks sebesar -7,98 poin, tepat di atas Bank Mandiri (BMRI) yang bertengger di urutan kelima top laggards dengan bobot -7,82 poin.
BERITA TERKAIT: