Hal ini menimbulkan harapan baru terkait semakin kuatnya semangat persatuan dan kesatuan bangsa.
"Indonesia ini telah mengalami 'gonjang-ganjing' yang mengancam persatuan dan kesatuan. Puncaknya adalah ketika Pilkada DKI kemarin dimana kebhinnekaan berada ditepi jurang kehancuran," kata KH. MH. Bahaudin, Ketua RMI NU DKI Jakarta kepada awak media pada malam takbiran.
"Namun, bangsa ini memiliki pengalaman untuk memandang segala perbedaan sebagai pengayaan kehidupan berbangsa dan bernegara. Betapapun lebarnya perbedaan itu, akhirnya bangsa ini kembali satu," jelas Gus Baha, panggilan akrabnya,
Ia menambahkan bahwa bulan suci Ramadhan ikut punya andil bagi Indonesia untuk lebih bersabar dan menghargai sesama anak bangsa.
"Saya sangat berbahagia, Ramadhan kali ini nyaris tidak ada berita sweeping Warung. Bahkan beberapa gereja yang sukarela merubah jadwal Kebaktiannya agar tidak bersamaan yang pada akhirnya berpotensi mengganggu pelaksanaan shalat Ied. Semakin Indahnya Toleransi di negeri ini," tutur Gus Baha.
Menurutnya, banyak pelajaran dan hikmah yang kita dapatkan selama Ramadhan tahun ini. Kendati Ramadhan telah berlalu, namun semangat Ramadhan harus terus dibawa, menjadi 'Imtidad' lanjutan Ramadhan dengan ibadah serta kesalehan sosial.
"Sebab Kata Syawal itu sendiri artinya peningkatan. Inilah yang harus mengisi sebelas bulan ke depan dalam perjalanan hidup kita," tutupnya.
[mel]
BERITA TERKAIT: