Kantor berita yang berafiliasi dengan ISIS, Amaq, disebutkan bahwa militer Filipina telah benar-benar gagal untuk mendapatkan kembali kota berpenduduk mayoritas Muslim tersebut, dimana ratusan pejuang yang bersekutu dengan kelompok ultra-radikal tersebut mencoba untuk merebut sejak tanggal 23 Mei.
"Pejuang Islam tersebar di lebih dari dua pertiga Marawi dan memperketat chokehold di tentara Filipina yang tidak mampu mengendalikan situasi," kata laporan tersebut.
Menanggapi hal tersebut, Juru bicara militer Filipina Brigadir Jenderal Restituto Padilla mencap laporan Amaq merupakan propaganda murni.
"Haruskah kita mengambil kata-kata mereka bahwa mereka menguasai dua pertiga Marawi? Dengan 202 teroris yang dikonfirmasi terbunuh mengapa kita memberi mereka kesempatan untuk menayangkan kebohongan mereka?" sebutnya.
Diminta mengomentari berapa banyak kota di tepi danau yang masih diduduki saat pengepungan tersebut memasuki minggu keempat, Letnan Jenderal Carlito Galvez, kepala komando militer di Mindanao Barat, mengatakan kepada
Reuters bahwa jumlahnya mencapai 20 persen.
"Dari 96 barangay (lingkungan sekitar), mereka memegang bagian di Marinaut, Lulut, Mapandi dan Distrik Komersial Bongolo, yang hanya terdiri dari 20 persen dari seluruh Kota Marawi dan semakin kecil setiap harinya," katanya.
Padilla mengatakan seminggu yang lalu bahwa para pejuang telah dipukuli kembali menjadi hanya 10 persen dari kota.
Perampasan Marawi oleh pejuang yang bersekutu dengan ISIS, termasuk beberapa dari Timur Tengah, telah mengkhawatirkan negara-negara Asia Tenggara yang takut pada kelompok ultra-radikal yang bertelanjang kaki di Irak dan Suriah, sedang berusaha mendirikan benteng pertahanan di Mindanao yang dapat Mengancam wilayah mereka.
[mel]
BERITA TERKAIT: