"Tahanan mulai menolak makanan yang diberikan oleh pusat mulai Selasa malam dan masih berlanjut," kata Atsushi Sakai, juru bicara Biro Imigrasi Regional Tokyo (Jumat, 12/5).
Namund emikian Satu menjelaskan bahwa masih belum jelas motif di balik aksi mogok makan tersebut. Pihaknya masih melakukan penyelidikan lebih lanjut.
Sakai pun enggan membeberkan asal negara mereka yang melakukan aksi mogok makan.
"Kami berasumsi bahwa mereka melakukan mogok makan untuk mengeluh tentang perawatan di pusat dan aplikasi untuk pembebasan sementara," katanya sambil menambahkan bahwa tindakan protes semacam ini jarang terjadi.
Sebuah kelompok hak asasi manusia yang disebut Asosiasi Pelepasan Sementara di Jepang menulis di blognya bahwa peserta mogok makan berasal dari 12 negara, termasuk China, Myanmar, dan Bangladesh, dan berusia antara 25 dan 55 tahun.
Sakai menjelaskan bahwa saat ini ada sekitar 580 orang ditahan di pusat imigrasi.
Biro tersebut tidak mengkonfirmasi apakah pencari suaka juga ditahan di sana namun Asosiasi Pengungsi Jepang, badan amal yang berbasis di Tokyo, mengatakan bahwa pelamar status pengungsi ditahan di pusat imigrasi.
Jepang, salah satu negara terkaya di dunia, menerima hanya 28 pengungsi pada tahun 2016, satu orang lebih banyak dari tahun sebelumnuya dari 8.193 aplikasi yang diulas oleh Biro Imigrasi.
[mel]
BERITA TERKAIT: