Berdasarkan data pemerintah Jepang yang dirilis Selasa, 19 Mei 2026, produk domestik bruto (PDB) tumbuh 2,1 persen secara tahunan, didorong oleh konsumsi domestik yang membaik serta ekspor yang tetap kuat.
Dikutip dari CNBC International, secara kuartalan, ekonomi Jepang tumbuh 0,5 persen pada periode Januari-Maret 2026. Angka ini lebih tinggi dibanding proyeksi analis sebesar 0,4 persen dan lebih baik dari pertumbuhan 0,3 persen pada kuartal sebelumnya.
Namun, capaian tersebut belum sepenuhnya mencerminkan dampak perang Iran yang pecah pada akhir Februari. Konflik di Timur Tengah memicu kenaikan harga minyak global yang dikhawatirkan dapat menekan perekonomian Jepang dalam beberapa bulan ke depan.
Bank Sentral Jepang (BOJ) bahkan telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun fiskal 2026 menjadi 0,5 persen dari sebelumnya 1 persen. Di sisi lain, proyeksi inflasi inti justru dinaikkan menjadi 2,8 persen dari sebelumnya 1,9 persen.
Dalam pertemuan kebijakan pada 7 Mei lalu, BOJ memperingatkan bahwa lonjakan harga minyak berpotensi menekan keuntungan perusahaan dan mengurangi daya beli masyarakat Jepang. Kondisi ini dinilai dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun.
Kepala ekonom Jepang di Oxford Economics, Shigeto Nagai, mengatakan Jepang berisiko menghadapi kondisi “stagflasi ringan” tahun ini.
“Situasi seperti stagflasi ringan bisa terjadi tahun ini,” kata Shigeto.
Ia menjelaskan bahwa pendapatan riil masyarakat Jepang telah berada di zona negatif dalam beberapa waktu terakhir, sementara inflasi diperkirakan tetap bertahan di atas level 2 persen.
Inflasi Jepang sendiri kembali naik pada Maret 2026 setelah sebelumnya melambat selama lima bulan. Menurut BOJ, kenaikan harga minyak mentah diperkirakan akan terus mendorong kenaikan harga energi dan barang-barang lainnya, seiring perusahaan meneruskan kenaikan biaya produksi ke konsumen.
BERITA TERKAIT: