Begitu kata Mantan Perdana Menteri Rusia Sergey Stepashin dalam sebuah wawancara dengan majalah Istorik seperti dimuat
Russia Today pekan ini. Politisi tersebut bahkan mengklaim bahwa dirinya lah yang menghentikan pemimpin Rusia tersebut untuk melakukan penghancuran tersebut
"Boris Nikolayevich (Yeltsin) memerintahkan saya untuk menghancurkan mausoleum itu pada tahun 1998," kata Stepashin, yang pada waktu itu menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri dan kemudian pada tahun 1999 ditunjuk sebagai Perdana Menteri.
Dia mengatakan bahwa dirinya dipanggil ke kantor Yeltsin, di mana presiden tersebut mengatakan kepadanya bahwa dia telah membuat keputusan. Ketika ia bertanya apa peran departemennya dalam pembongkaran yang direncanakan, Yeltsin mengatakan bahwa tugasnya adalah untuk menjamin ketertiban selama proses penghancuran berlangsung.
Stepashin mengatakan bahwa pada saat itu ia menyampaikan kepada Yeltsin bahwa bukan wewenangnya untuk menentang "perintah panglima tertinggi".
Namun, bagaimanapun, ia memperingatkan presiden bahwa dia tidak dapat menjamin bahwa setelah tindakan semacam itu dilakukan, keduanya dapat mempertahankan posisi negara mereka. Dia kemudian mulai membujuk Yeltsin agar mengurungkan niatnya tersebut.
"Tentu saja, menurut peraturan Kristen, tubuh Lenin tidak boleh dipajang, itu dosa, tapi sekarang bukan saatnya untuk memindahkan mausoleumnya," kata Stepashin pada Yeltsin pada tahun 1998.
Ia mengklaim bahwa presiden menggerutu, tapi mendengar argumennya.
Mengubur atau tidak mengubur Lenin, yang meninggal pada tahun 1924, telah menjadi topik diskusi dan debat panas di Rusia selama tiga dekade terakhir. Bahkan ada saran dari pihak oposisi bahwa lebih murah menghidupkan kembali Lenin daripada menjaga tubuhnya.
Dalam salah satu langkah terakhir, sejumlah anggota parlemen merancang sebuah proposisi ke Duma Negara untuk menyingkirkan mayat pemimpin Soviet itu dari Lapangan Merah namun kemudian menarik tanda tangan mereka dari undang-undang tersebut.
Sebuah jajak pendapat baru-baru ini oleh firma riset Levada Center menunjukkan bahwa lebih dari separuh penduduk Rusia percaya bahwa Lenin harus dikuburkan. Namun, mayoritas responden, 78 persen, mengatakan bahwa mereka menolak menyingkirkan mausoleum Lenin dari Lapangan Merah. Tiga puluh satu persen orang Rusia yang mengambil bagian dalam survei tersebut mengatakan bahwa mayat tersebut harus tetap berada di sana.
[mel]
BERITA TERKAIT: