Sekretaris Yayasan Nawasena Goldy Herdiansyah menilai keputusan Pertamina menaikkan harga BBM nonsubsidi sebagai konsekuensi penutupan selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur penting distribusi minyak global.
"Pilihan menaikkan harga Pertamax tidak terlepas dari penutupan selat Hormuz sehingga menyebabkan kenaikan harga minyak global," kata Goldy dalam keterangannya.
Selain itu, menurut Goldy, penyesuaian harga Pertamax tidak terlepas dari harga minyak mentah Indonesia sekitar 106,56 dolar AS per barel.
Kondisi tersebut menambah beban produksi Pertamina sehingga menjadikan harga jual lebih tinggi.
"Situasi ini dikarenakan Indonesia masih bergantung terhadap impor BBM untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri," kata Goldy.
Namun Goldy mengingatkan bahwa kenaikan harga Pertamax akan diikuti dengan kenaikan harga barang dan jasa lainnya.
"Ini tentunya akan menambah pengeluaran rakyat," kata Goldy.
Lebih lanjut, Goldy berharap agar pemerintah melakukan mitigasi dengan memberi proteksi sosial untuk mengurangi beban rakyat.
"Pemerintah sebaiknya memberikan bansos untuk menanggulangi dampak yang dihasilkan dari kenaikan harga sehingga dapat mengurangi beban rakyat," pungkas Goldy.
Pertamina resmi melakukan kenaikan harga BBM Pertamax (RON 92) menjadi Rp 16.250 per liter (naik dari Rp 12.300) dan Pertamax Green 95 menjadi Rp 17.000 per liter (naik dari Rp 12.900) per 10 Juni 2026.
BERITA TERKAIT: