Dalam wawancara eksklusif dengan
Telegragph, Jumat, Clinton menyatakan hal itu akan menjadi "tugas utama pertama" jika ia terpilih menjadi presiden dalam pemilihan November mendatang.
Clinton menegaskan, di bawah pemerintahannya, kebijakan AS di Suriah tidak akan menepis fakta bahwa rezim Bashar Al Assad merupakan rezim pembunuh yang harus disingkirkan dari negara itu.
Clinton menyatakan, pemerintahannya akan bekerja untuk meningkatkan serangan kepada teroris ISIS sekaligus rezim Assad agar keduanya keluar dari Suriah.
"Pemerintahan Clinton tidak akan mundur, untuk membuat jelas kepada dunia apa sebenarnya rezim Assad itu," tegas mantan first lady AS ini.
"Ini (Assad) adalah rezim pembunuh yang melanggar hak asasi manusia, yang telah melanggar hukum internasional, menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya sendiri. Telah menewaskan ratusan ribu orang, termasuk puluhan ribu anak-anak," lanjutnya.
Pernyataan Clinton itu datang di tengah kritik kepada pemerintahan Obama yang menggunakan pendekatan berbeda dalam perang Suriah, yang sampai sekarang diperkirakan telah menelan lebih dari 400.000 orang tewas sejak 2011 silam.
Gedung Putih di bawah Obama memang tetap berkomitmen untuk menyingkirkan Assad, sementara pada saat yang sama menjalin aliansi dengan Rusia yang merupakan sekutu Assad.
Awal bulan ini, perjanjian Obama dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, berisi kerjasama pasukan AS dan Rusia dalam menghancurkan kelompok Jabhat al-Nusra, kelompok Islam radikal yang bersekutu dengan Al-Qaeda sekaligus menjadi salah satu lawan utama pemerintahan Assad.
Kritikus memperingatkan bahwa pendekatan Obama hanya akan menumbuhkan sentimen anti-Amerika di kalangan oposisi Suriah, yang merasa ditinggalkan oleh AS setelah gagal mengambil tindakan tegas terhadap Damaskus.
[ald]
BERITA TERKAIT: