Namun demikian, dalam dialog bersama jurnalis senior
CNN Fareed Zakaria, Blair mengatakan dirinya tidak menyesali kejatuhan Saddam Hussein.
"Saya bisa mengatakan, saya minta maaf karena informasi intelijen yang kami terima salah," ujarnya. Menurut dia senjata pemusnah massal yang digunakan rezim Saddam Hussein ada dan digunakan untuk membantai rakyat Irak. Namun keberadaan senjata pemusnah massal itu tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya.
Keberadaan senjata pemusnah massal milik Saddam Hussein itulah yang menjadi dasar dan alasan Amerika Serikat dan Inggris melancarkan serangan ke Irak.
Menteri Luar Negeri AS kala itu, Colin Powell, dalam sidang Dewan Keamaan PBB bulan Februari 2003 memastikan keberadaan senjata pemusnah massal itu. Namun belakangan, Powell menyadari kekeliruannya dan pada November 2004 dia mengundurkan diri dari pemerintahan Bush.
Sebanyak 4.000 tentara AS dan 179 tentara Inggris tewas dalam serangan itu.
"Saya rasa sulit untuk minta maaf atas upaya menjatuhkan Saddam. Saya kira, bahkan untuk hari ini di tahun 2015 lebih baik dia tidak ada di sana dibandingkan dia ada di Irak saat ini," kata Blair lagi.
[dem]
BERITA TERKAIT: