Berbicara di hadapan para pendukungnya pada Jumat, 9 Januari 2026, Khamenei menuduh para demonstran bertindak demi menyenangkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
“Mereka merusak jalanan mereka sendiri untuk menyenangkan presiden Amerika Serikat,” kata Khamenei, dikutip dari Associated Press, Sabtu 10 Januari 2026.
“Karena dia (Trump) mengatakan akan datang membantu mereka. Seharusnya dia memperhatikan keadaan negaranya sendiri," ujarnya.
Pernyataan ini muncul di tengah gelombang protes nasional terbesar di Iran dalam beberapa tahun terakhir, yang dipicu oleh kondisi ekonomi yang memburuk. Sejak akhir Desember, sedikitnya 62 orang tewas dan lebih dari 2.300 orang ditahan, menurut kelompok pemantau HAM.
Khamenei juga menepis tuduhan Trump yang menyebut tangannya “berlumuran darah rakyat Iran”.
Dalam siaran televisi pemerintah, para pendukung Khamenei terdengar meneriakkan slogan “Matilah Amerika!”. Media pemerintah Iran bahkan melabeli para demonstran sebagai “teroris”, sebuah narasi yang kerap digunakan sebelum penindakan keras dilakukan.
Ancaman tersebut diperkuat oleh Kepala Kehakiman Iran, Gholamhossein Mohseni-Ejei, yang menegaskan bahwa hukuman terhadap para demonstran akan dijatuhkan secara tegas, maksimal, dan tanpa kelonggaran hukum apa pun.
BERITA TERKAIT: