Polisi Usir Paksa Mahasiswa yang Duduki Gedung Eksekutif

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Senin, 24 Maret 2014, 16:40 WIB
Polisi Usir Paksa Mahasiswa yang Duduki Gedung Eksekutif
foto:net
rmol news logo . Polisi anti huru-hara mengusir paksa sejumlah pengunjuk rasa yang bertahan di gedung eksekutif Taiwan pada Senin pagi (24/3).

Sebelumnya, para pengunjuk rasa telah menduduki gedung legislatif sejak 18 Maret pekan lalu sebagai bagian dari protes atas kesepakatan perdagangan kontroversial yang dibangun antara Taiwan dan daratan China tahun lalu.

Protes yang dijuluki sebagai "Sunflower Movement" oleh media-media Taiwan tersebut menyerukan untuk dibatalkannya kesepakatan dengan China karena dinilai dapat membahayakan sistem ekonomi, demokrasi, dan keamanan nasional Taiwan.

Mereka juga menilai bahwa kesepakatan dapat mengancam usaha kecil dengan mengizinkan China untuk memberikan pengaruh yang lebih besar di Taiwan melalui investasi dalam sektor industri inti dan sensitif, termasuk industri yang berkaitan dengan kebebasan pers seperti penerbitan dan periklanan.

Pada Minggu malam (23/3), ratusan pengunjuk rasa melempari gedung eksetutif Yuan di Taipei dengan batu setelah presiden Taiwan, Ma Ying-jeou mengabaikan tuntutan pengunjuk rasa tersebut.

Ma Ying-jeou menyebut bahwa kesepakatan yang dibangun justru memberikan banyak manfaat bagi perekonomian Taiwan serta membangun lapangan pekerjaan baru.

"Integrasi ekonomi regional merupakan tren global yang tidak bisa dihentikan. Bila kita tidak menghadapi hal ini dan bergabung dalam proses, itu hanya akan menjadi masalah waktu sebelum kita tersingkirkan dari kompetisi," kata Ma.

Sementara itu, polisi menggunakan sejumlah water cannon bertekanan tinggi untuk membubarkan pengunjuk rasa yang didominasi oleh mahasiswa pada Minggu malam.

Pengunjuk rasa kemudian melanjutkan aksinya dengan tetap menduduki gedung legislatif dan mulai menduduki gedung eksekutif. "Kami lelah, sangat lelah. Tapi kami akan melanjutkan (unjuk rasa) demi demokrasi," kata Jurubicara Pergerakan, Lin Fei-fan pada CNN (Senin, 24/3).

"Kami telah menggelar protes selama tujuh hari sekarang. Setelah kekerasan malam lalu, kami terguncang," lanjutnya.

Lin menyebut bahwa terdapat sekitar 200 pengunjuk rasa di dalam aula pertemuan utama Legislatif Yuan pada hari ini. Sementara ada lebih banyak pengunjuk rasa yang bertahan di luar gedung. "Malam kemarin, banyak mahasiswa yang terluka dan berdarah, beberapa di antaranya mengalami gegar otak dan patah tulang," jelasnya.

Sejak protes berlangsung sepekan terakhir, setidaknya 137 orang telah dilarikan ke rumah sakit akibat cidera ringan maupun berat. Korban luka terdiri dari pengunjuk rasa, polisi, dan jurnalis.

Sementara itu sebanyak 61 orang telah ditahan selama unjuk rasa, sebagian di antaranya telah dibebaskan. Hingga hari ini tersisa 35 orang yang masih diinterogasi oleh pihak keamanan.

Taiwan dan China menandatangani pakta perdagangan pada Juni tahu lalu, namun tinjauan atas kesepakatan tersebut telah ditunda di tahap legislatif.

Hubungan Taiwan dengan China daratan membaik sejak Ma menjabat sebagai presiden pada tahun 2008. Kedua negara bahkan pada tahun lalu menggelar pertemuan tingkat tinggi yang menandai kontak pertama antar pemerintah kedua negara sejak tahun 1949 menyusul perang sipil China. [rus]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA