Ouattara berjanji untuk mempromosikan rekonsiliasi di negaranya. Ia akan menjadikan momen upacara pelantikan untuk memperkuat legitimasinya sebagai presiden setelah terjadi perebutan kekuasaan dengan presiden Gbagbo yang berujung pada aksi kekerasan di negara tersebut.
Sebelumnya, Ouattara telah memenangkan pemilu presiden pada 28 November tahun lalu setelah mengalahkan Presiden Laurent Gbagbo. Penolakan Gbagbo untuk mengakui kekalahannya menyebabkan Pantai Gading terpecah menjadi dua. Perpecahan yang terjadi menyebabkan aksi kekerasan yang telah menewaskan 3000 orang dalam kurun waktu enam bulan.
"Pelantikan ini menandakan satu titik awal bagi Pantai Gading yang baru. Tuan Ouattara akan menerima berkah dari semua rakyat Pantai Gading dan menunjukkan kepada dunia internasional ia dipilih sebagai kepala negara (Pantai Gading) secara utuh," kata jurubicara Ouattara, Anne Puloto, seperti dikutip
AFP (Sabtu, 21/5)
Ia berharap, pemerintahannya mendapat dukungan dari dunia internasional. Untuk mewujudkan hal tersebut dia mengundang 23 kepala negara, sebagian besar para pemimpin Afrika. Presiden Perancis, Nicolas Sarkozy, juga termasuk di dalam undangan.
Selain Perancis pernah menjajah Pantai Gading, pasukan Perancis juga membantu menggulingkan mantan penguasa Laurent Gbagbo. Tercatat juga bahwa Ouattara mengundang Sekjen PBB Ban Ki-moon dalam pelantikannya.
[ald]
BERITA TERKAIT: