Perkembangan soÂsial, kultural sekaligus politis ini disampaikan Junus Effendi HaÂbibie kepada koresponden Rakyat Merdeka di Belanda A. Supardi Adiwidjaya di sela-sela seremonial akhir tugasÂnya seÂbagai Duta Besar Indonesia unÂtuk Belanda, akhir pekan lalu.
Cairnya sikap RMS yang semÂpat mengancam bakal menyeret Presiden SBY ke meja hijau itu, katanya, berkat pendekatan diÂrinya beserta jajaran secara diÂpÂlomasi kultural dan kekeÂluargaan. KhuÂsusnya kepada maÂsyaÂrakat ketuÂrunan Maluku bahwa sebagai sesama orang Indonesia itu seÂlayaknya harus arif bersaudara.
“Setelah saya disini (Belanda), nyaris tidak pernah lagi ada deÂmonstrasi yang diadakan RMS, terutama di depan KBRI Den Haag,†curhat dubes yang akrab disapa Fanny Habibie itu.
Diceritakan lagi oleh adik kanÂdung BJ Habibie itu, masyarakat Maluku yang tadinya terbagi daÂlam tiga grup; pro RI, netral dan garis keras kontra RI, kini seÂmakin mengerucut masuk grup yang netral dan tidak lama lagi diharapkan dapat total menÂduÂkung RI. “Jadi, ini suatu kemaÂjuan yang besar sekali. Dan saya sempat diundang oleh mereka daÂlam suatu pertemuan di kantong-kantong RMS di Vlissingen, Den Haag. Disana saya mendapat sambutan baik,†ungkap Fanny.
Momen berkesan lain di mata Fanny saat Natal 2010 lalu, diriÂnya diundang oleh organisasi Alma, orang-orang Maluku di Houten. Kala itu, di amplop unÂdangan ada gambar bendera RMS. Tak terima, Fanny langÂsung meminta gambar bendera itu dihilangkan kalau RMS mau dirinya memenuhi undangan.
“Ternyata mereka mau meralat tidak pakai bendera RMS. Dalam acara kebaktian Hari Natal itu saya ikut hadir. Kemudian saya diminta bicara. Waktu saya bicara, saya terangkan bahwa negara kita meÂnganut Pancasila, dimana semua orang baik penganut agaÂma KrisÂten maupun Islam dan lainnya itu sama hak dan kewaÂjibannya. DaÂlam agama KrisÂten diajarkan soal hidup berÂdamÂpingan secara daÂmai, demikian juga dalam Islam. Jadi kita tidak boleh menganÂjurÂkan pertenÂtaÂngan, tetapi mengÂutaÂmakan keÂhidupan yang damai. Nah, pesan saya itu sampai, diterima mereka,†jelasnya.
Menurut informasi dari WikiÂpedia, RMS adalah daerah yang diÂproklamasikan merdeka pada 25 April 1950 dengan maksud unÂtuk meÂmisahkan diri dari Negara InÂdonesia Timur (saat itu IndoÂnesia maÂsih berupa Republik InÂdonesia SeÂrikat). Namun oleh PeÂmerintah PuÂsat, RMS dianggap sebagai pemÂberontakan dan seteÂlah misi damai gagal, maka RMS ditumpas tuntas pada November 1950. Sejak 1966, RMS berÂfungÂsi sebagai peÂmerintahan di peÂngasingan, Belanda
Mayoritas penduduk Maluku pada saat RMS didirikan berÂagaÂma Islam dan Kristen secara berÂimbang, Namun, dengan adanya buÂdaya “Pela Gandongâ€, dapatÂlah dikatakan bahwa di KepuÂlauan Maluku, seluruh lapisan dan segenap masyarakat Maluku bersatu secara kekeluargaan, baik beragama Kristen, Islam, mauÂpun agama Hindu dan BuddÂha, seÂmuanya bersatu. [RM]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: