RMS Makin Cinta Indonesia

Laporan Koresponden Rakyat Merdeka Dari Belanda

Kamis, 20 Januari 2011, 00:38 WIB
RMS Makin Cinta Indonesia
bendera rms
RMOL.Perlahan tapi pasti, ke­lom­pok Republik Maluku Selatan (RMS) di Belanda sudah meng­akui keber­adaan negara kedau­latan Indo­nesia. Ini ditandai se­ma­kin terge­rus­nya anggota RMS dari garis ke­ras yang otomatis me­nambah ang­gota dari kalangan pro Indonesia.

Perkembangan so­sial, kultural sekaligus politis ini disampaikan Junus Effendi Ha­bibie kepada koresponden Rakyat Merdeka di Belanda A. Supardi Adiwidjaya di sela-sela seremonial akhir tugas­nya se­bagai Duta Besar Indonesia un­tuk Belanda, akhir pekan lalu.

Cairnya sikap RMS yang sem­pat mengancam bakal menyeret Presiden SBY ke meja hijau itu, katanya, berkat pendekatan di­rinya beserta jajaran secara di­p­lomasi kultural dan keke­luargaan. Khu­susnya kepada ma­sya­rakat ketu­runan Maluku bahwa sebagai sesama orang Indonesia itu se­layaknya harus arif bersaudara.  

“Setelah saya disini (Belanda), nyaris tidak pernah lagi ada de­monstrasi yang diadakan RMS, terutama di depan KBRI Den Haag,” curhat dubes yang akrab disapa Fanny Habibie itu.

Diceritakan lagi oleh adik kan­dung BJ Habibie itu, masyarakat Maluku yang tadinya terbagi da­lam tiga grup; pro RI, netral dan garis keras kontra RI, kini se­makin mengerucut masuk grup yang netral dan tidak lama lagi diharapkan dapat total men­du­kung RI. “Jadi, ini suatu kema­juan yang besar sekali. Dan saya sempat diundang oleh mereka da­lam suatu pertemuan di kantong-kantong RMS di Vlissingen, Den Haag. Disana saya mendapat sambutan baik,” ungkap Fanny.

 Momen berkesan lain di mata Fanny saat Natal 2010 lalu, diri­nya diundang oleh organisasi Alma, orang-orang Maluku di Houten. Kala itu, di amplop un­dangan ada gambar bendera RMS. Tak terima, Fanny lang­sung meminta gambar bendera itu dihilangkan kalau RMS mau dirinya memenuhi undangan.

“Ternyata mereka mau meralat tidak pakai bendera RMS. Dalam acara kebaktian Hari Natal itu saya ikut hadir. Kemudian saya diminta bicara. Waktu saya bicara, saya terangkan bahwa negara kita me­nganut Pancasila, dimana semua orang baik penganut aga­ma Kris­ten maupun Islam dan lainnya itu sama hak dan kewa­jibannya. Da­lam agama Kris­ten diajarkan soal hidup ber­dam­pingan secara da­mai, demikian juga dalam Islam. Jadi kita tidak boleh mengan­jur­kan perten­ta­ngan, tetapi meng­uta­makan ke­hidupan yang damai. Nah, pesan saya itu sampai, diterima mereka,” jelasnya.

Menurut informasi dari Wiki­pedia, RMS adalah daerah yang di­proklamasikan merdeka pada 25 April 1950 dengan maksud un­tuk me­misahkan diri dari Negara In­donesia Timur (saat itu Indo­nesia ma­sih berupa Republik In­donesia Se­rikat). Namun oleh Pe­merintah Pu­sat, RMS dianggap sebagai pem­berontakan dan sete­lah misi damai gagal, maka RMS ditumpas tuntas pada November 1950. Sejak 1966, RMS ber­fung­si sebagai pe­merintahan di pe­ngasingan, Belanda

Mayoritas penduduk Maluku pada saat RMS didirikan ber­aga­ma Islam dan Kristen secara ber­imbang, Namun, dengan adanya bu­daya “Pela Gandong”, dapat­lah dikatakan bahwa di Kepu­lauan Maluku, seluruh lapisan dan segenap masyarakat Maluku bersatu secara kekeluargaan, baik beragama Kristen, Islam, mau­pun agama Hindu dan Budd­ha, se­muanya bersatu. [RM]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA