Ancaman itu disampaikan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Ghalibaf, menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut Amerika berada dalam kondisi “siap siaga” dan dapat turun tangan kapan saja.
Demonstrasi besar-besaran di Iran pecah sejak akhir Desember.
“Presiden Amerika yang tidak sopan itu harus tahu bahwa semua pusat dan pasukan Amerika di seluruh wilayah akan menjadi target yang sah bagi kami sebagai tanggapan atas potensi petualangan apa pun,” ujar Ghalibaf dalam pernyataan di platform X pada Jumat.
Pernyataan itu disampaikan sebagai respons atas unggahan Trump di Truth Social pada hari yang sama, seperti dikutip dari RT, Sabtu, 3 Januari 2026.
Kekacauan di Iran bermula dari aksi mogok para pedagang di Teheran setelah nilai mata uang nasional, rial, jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah. Aksi tersebut kemudian menyebar ke berbagai kota dan berkembang menjadi protes politik yang diwarnai bentrokan.
Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan massa menyerang gedung-gedung pemerintah serta fasilitas yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Laporan mengenai korban jiwa juga bermunculan, baik dari kalangan demonstran maupun aparat keamanan.
Gelombang protes kali ini disebut sebagai yang terburuk sejak kerusuhan besar pada tahun 2022, yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini, perempuan berusia 22 tahun yang ditahan polisi moral karena diduga tidak mengenakan hijab sesuai aturan. Kerusuhan tersebut berlangsung selama berminggu-minggu, menewaskan lebih dari 200 orang dan menyebabkan ribuan penangkapan.
BERITA TERKAIT: