Pemulihan ini terjadi di tengah kejatuhan harga minyak dunia, pelemahan Dolar AS, serta sikap investor yang terus mencermati arah kebijakan suku bunga terbaru dari Federal Reserve.
Emas spot melompat 2,3 persen menjadi 4.360,36 Dolar AS per ons. Sedangkan emas berjangka AS untuk kontrak pengiriman Desember ditutup naik tipis 0,3 persen ke posisi 4.399,70 Dolar AS per ons.
Koreksi harga minyak sendiri memang berlanjut hingga hari kedua berturut-turut, menyentuh titik terendah dalam sepekan seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan.
Pada saat yang sama, indeks Dolar AS ikut tersungkur dari level tertingginya dalam tujuh pekan. Lemahnya Dolar membuat komoditas seperti emas, yang dipatok dalam mata uang greenback, jadi jauh lebih murah dan menarik bagi pembeli yang memegang mata uang lain.
Sentimen positif kian diperkuat oleh penurunan imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun. Turunnya yield ini menjadi angin segar bagi emas, mengingat imbal hasil tinggi pada aset minim risiko biasanya justru meredupkan daya tarik bullion yang tidak memberikan hasil tetap (non-yielding asset).
Di sisi lain, langkah The Fed yang resmi menaikkan suku bunganya pada Rabu lalu, disusul sinyal pengetatan lanjutan dalam beberapa bulan ke depan, menjadi sorotan utama. Keputusan yang diambil secara bulat ini turut didukung oleh suara dari Chairman Fed, Kevin Warsh.
Walaupun kenaikan suku bunga lazimnya menjadi momok bagi emas (karena tingginya suku bunga mendongkrak daya tarik aset berbunga), pasar tampaknya merespons dinamika ini dengan cara berbeda.
Berdasarkan data FedWatch Tool milik CME Group, para pelaku pasar kini memperkirakan probabilitas sebesar 51 persen untuk kenaikan suku bunga lanjutan pada pertemuan Oktober mendatang, naik dari posisi hari sebelumnya yang berada di kisaran 44 persen.
Sementara itu, dinamika bank sentral global lainnya turut mewarnai pasar keuangan. Bank of England (BoE) resmi mempertahankan suku bunganya pada Kamis. Bank of Japan (BoJ) diprediksi bakal mengerek suku bunganya pada Jumat ke level tertinggi dalam kurun waktu 31 tahun, sekaligus memberikan sinyal kesiapan melanjutkan tren kenaikan biaya pinjaman.
Kenaikan harga emas turut menjalar ke logam mulia lainnya di pasar global. Perak spot melambung tinggi hingga 4,2 persen menjadi 65,60 Dolar AS per ons. Platinum ikut meroket 1,8 persen ke level 1.783,69 Dolar AS per ons, dan Paladium menutup sesi dengan lonjakan 1,6 persen ke posisi 1.289,45 Dolar AS per ons.
BERITA TERKAIT: