Rupiah Cerah Rp17.564 per Dolar AS, Pasar Cermati Konflik AS-Iran

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/alifia-dwi-ramandhita-1'>ALIFIA DWI RAMANDHITA</a>
LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA
  • Rabu, 09 September 2026, 09:59 WIB
Rupiah Cerah Rp17.564 per Dolar AS, Pasar Cermati Konflik AS-Iran
Rupiah. (Foto: RMOL/Alifia)
Kecil Besar
rmol news logo Nilai tukar Rupiah menguat terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu pagi, 9 September 2026.

Mengacu data Bloomberg, hingga pukul 09.35 WIB, Rupiah berada di level Rp17.564 per Dolar AS. Posisi tersebut menguat 68 poin atau 0,39 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan Dolar AS masih dibayangi eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi mengganggu pasar energi global.

“Para pejabat Iran telah memperingatkan bahwa infrastruktur minyak dan gas di seluruh wilayah Teluk dapat menjadi sasaran balasan atas serangan terhadap aset-asenya,” kata Ibrahim dalam riset hariannya.

Menurutnya, perusahaan minyak dan gas Amerika yang beroperasi di perairan dan fasilitas wilayah Teluk juga menghadapi risiko kerentanan yang sama.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf bahkan mengatakan jika Washington menyerang aset Iran, maka negara itu juga akan menyerang balik.

Ibrahim menuturkan, perhatian pasar juga tertuju pada kondisi di Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis bagi perdagangan minyak dunia.

Iran disebut akan memberlakukan zona pembatasan baru di kawasan Teluk serta menyediakan koridor pelayaran alternatif. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran bahwa pengetatan pengawasan maritim dapat semakin memperlambat lalu lintas kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.

"Selat Hormuz tetap menjadi fokus utama bagi pasar minyak," kata Ibrahim.

Di sisi lain, pelaku pasar masih mencermati sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan moneter The Fed.

Data Indeks Harga Produsen (PPI) AS dijadwalkan rilis pada Kamis, 10 September 2026, kemudian disusul data Indeks Harga Konsumen (CPI) pada Jumat, 11 September 2026.

Ibrahim mengatakan, angka inflasi AS yang lebih tinggi dapat memperkuat ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Pasar saat ini memperhitungkan peluang sekitar 60 persen terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada pekan depan, seiring pengaruh laporan nonfarm payrolls AS yang kuat pada pekan lalu.

Dari dalam negeri, penguatan Rupiah turut ditopang oleh kondisi cadangan devisa Indonesia yang meningkat.

Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa mencapai 146,5 miliar Dolar AS pada akhir Agustus 2026, naik dari 145,3 miliar Dolar AS pada akhir Juli 2026.

Meski demikian, Ibrahim memperkirakan pergerakan Rupiah masih akan fluktuatif di tengah dinamika global tersebut.

"Rupiah diprediksi bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.630 hingga Rp17.670," pungkasnya. rmol news logo article


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA