Hari ini tepat setahun Purbaya Yudhi Sadewa menjabat sebagai menteri keuangan. Ia dilantik usai Sri Mulyani Indrawati mengundurkan diri dari jabatan strategis dalam Kabinet Merah Putih ini.
Selama setahun memegang kendali keuangan negara, kiprah Purbaya tidak lepas dari berbagai kontroversi, baik dari sisi kebijakan maupun pernyataan ‘nyeleneh’ gaya koboi-nya.
Menanggapi hal itu, Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira mengurai sepak terjang Purbaya dalam periode setahun ini yang menurutnya mengecewakan.
"Total utang pemerintah ditambah utang baru era Purbaya makin agresif hingga menembus Rp10.293 triliun. Kalau dilihat kemampuan bayar bunga utang terhadap penerimaan pajak terus melemah. Nggak sinkron nafsu terbitkan utang dengan kemampuan bayar,” kata Bhima dalam pesan elektronik kepada
RMOL di Jakarta, Selasa, 8 September 2026.
Data posisi surat utang pemerintah menunjukkan ekspansi penerbitan yang agresif untuk menutupi defisit fiskal. Total outstanding surat utang melonjak dari Rp8.113 triliun pada Juli 2025 menjadi Rp8.958 triliun pada Juli 2026, meningkat lebih dari Rp845 triliun hanya dalam waktu satu tahun.
Penambahan utang masif ini didominasi oleh penerbitan SBN (Surat Berharga Negara) berkupon tinggi, seperti seri FR0106 dan FR0107 yang menawarkan kupon sangat tinggi sebesar 7,125 persen. Outstanding Seri FR0106 melonjak 149 persen, meningkat Rp97 triliun selama Juli 2025 sampai dengan Juli 2026. Sedangkan Outstanding Seri FR0107 melonjak 211 persen, meningkat Rp96 triliun pada periode yang sama.
Hal ini menunjukkan selain terjadi peningkatan nominal utang, negara harus menanggung beban bunga utang yang jauh lebih tinggi untuk setiap utang baru yang ditarik dalam satu tahun terakhir. Peningkatan beban bunga utang ini semakin mempersempit ruang fiskal pemerintah yang mendorong kebutuhan peningkatan penerimaan pajak.
Selain itu, peningkatan kupon SBN juga mendorong praktek lazy banking di mana perbankan lebih senang memarkir dananya pada instrumen SBN ketimbang menyalurkan kredit ke sektor riil. Dengan terhambatnya kredit ke sektor riil turut menekan laju pertumbuhan penerimaan pajak yang bergantung pada aktivitas usaha sektor riil.
Lanjut Bhima, Purbaya juga lemah dalam mengendalikan anggaran sehingga terjadi kebocoran sana sini.
“Contohnya MBG dan Kopdes yang menyita anggaran besar, sementara Menkeu tidak ada kendali sama sekali padahal tau program ini boros dan rawan korupsi,” ungkapnya.
Mundur sebagai Jalan Terbaik
Ekonom yang dikenal kritis ini lantas menyebut kebijakan pajak Purbaya lebih parah dari Sri Mulyani, termasuk perubahan aturan pajak UMKM yang dinilai memberatkan pelaku usaha kecil informal di tengah lemahnya daya beli.
“Memang Purbaya sepertinya ingin yang kecil makin kecil, sementara pengusaha kakap dapat imunitas dan fasilitas kawasan bebas pajak,” tuturnya.
Masih kata Bhima, efisiensi anggaran di daerah juga telah memakan korban, termasuk penanganan bencana yang lambat.
“Banjir Sumatera pemerintah gagal, sekarang El Nino dan Karhutla tapi anggaran lembaga yang tangani bencana kecil sekali. Pertumbuhan ekonomi di atas kertas Purbaya rapuh. Purbaya harusnya mundur kalau tidak mampu jadi menkeu,” tandasnya.
Dalam setahun menjabat sebagai menkeu, Purbaya sempat mengungkapkan suka dukanya. Dengan gaya penuh ‘nyeleneh’, ia berseloroh bahwa berat badannya sempat turun menjadi 88 kilogram dari 102 kg saat pertama kali menjadi menkeu.
Dukanya dulu lah. Kalau lihat berat badan saya kan, pas jadi menteri saya 102. Sekarang 97, udah 98, sudah recover. Sebelumnya turun sampai 88. Berarti kerjanya emang berat ya, Kementerian Keuangan,” kata Purbaya kepada wartawan di Jakarta, Selasa, 8 September 2026.
Meski mengakui pekerjaannya cukup berat, Purbaya mengaku tetap menikmati perannya sebagai menteri keuangan.
Terlebih, posisinya saat ini membuat ia bisa melihat langsung bagaimana teori ekonomi yang selama ini dipelajarinya bekerja di lapangan.
"Kalau sukanya sih fun. Kalau untuk ilmuwan seperti saya, saya ekonom kan ilmuwan ya. Itu paling menarik adalah ketika kita bisa menguji teori-teori di lapangan langsung dan kita lihat hasilnya sesuai dengan apa yang kita prediksi atau yang kita rencanakan,” jelas Purbaya.
Ia kemudian menyinggung kondisi ekonomi Indonesia yang menurutnya mulai menunjukkan perkembangan positif.
Purbaya bahkan memastikan Indonesia sudah mulai keluar dari pola pertumbuhan ekonomi yang selama ini hanya berada di kisaran 5 persen.
BERITA TERKAIT: