Pasar Global Bergejolak, Ada Sinyal Asing Mulai Kembali ke Saham RI

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Senin, 07 September 2026, 07:23 WIB
Pasar Global Bergejolak, Ada Sinyal Asing Mulai Kembali ke Saham RI
Ilustrasi (Artificial Intelligence)
Kecil Besar
rmol news logo Pasar keuangan global kembali bergerak dalam suasana penuh gejolak sepanjang pekan lalu. Konflik di sekitar Selat Hormuz kembali memanas setelah sempat relatif tenang selama sebulan, sementara data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan kembali meningkatkan perhatian terhadap arah suku bunga Federal Reserve (The Fed).

PT Ashmore Asset Management Indonesia dalam Weekly Commentary mencatat, meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz mendorong harga minyak naik sekitar 7 persen menjadi sekitar Dolar AS 95 per barel.

AS kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah target Iran di sekitar Selat Hormuz. Teheran kemudian merespons dengan mengerahkan drone dan rudal yang diarahkan ke sejumlah pangkalan AS di kawasan tersebut.

Meski eskalasi konflik memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak, arus fisik komoditas tersebut justru belum menunjukkan gangguan signifikan. Ashmore mencatat lebih dari 17 juta barel minyak melewati Selat Hormuz pada Senin, menjadi level tertinggi sejak perang dimulai pada akhir Februari. Angka tersebut memang masih di bawah sekitar 20 juta barel sebelum konflik.

"Dengan kata lain, harga didorong oleh kekhawatiran mengenai apa yang mungkin terjadi, bukan oleh kekurangan aktual saat ini, dan harga kemungkinan akan tetap sensitif terhadap berita utama berikutnya," sebut Ashmore, dikutip Senin 7 September 2026.

Di tengah gejolak global tersebut, pasar Indonesia justru mencatat perkembangan positif. IHSG menguat sekitar 1,8 persen sepanjang pekan lalu hingga berada di level 6.636.

Yang menarik, investor asing kembali mencatatkan pembelian bersih atau net buy sekitar Dolar AS 132 juta setelah sebagian besar tahun ini pasar domestik lebih banyak menghadapi arus dana keluar asing.

Ashmore menilai masuknya kembali dana asing menjadi sinyal penting karena terjadi setelah perubahan indeks MSCI yang mulai berlaku pada penutupan perdagangan Senin dan memicu aksi jual oleh index funds.

"Dengan adanya arus masuk bersih berarti investor asing membeli lebih dari cukup untuk mengimbangi penjualan tersebut," ungkap Ashmore.

Namun, perhatian investor tidak hanya tertuju pada pasar saham. Ekspektasi terhadap arah suku bunga AS juga mengalami perubahan tajam sepanjang pekan lalu.

Setelah pidato Ketua The Fed Stephen Miran di Jackson Hole, probabilitas kenaikan suku bunga pada September sempat melonjak dari sekitar sepertiga menjadi sekitar 70 persen. Ekspektasi tersebut kemudian turun menjadi sekitar 52 persen pada Kamis.

Gubernur The Fed Christopher Waller sebelumnya menyatakan akan mendukung mempertahankan suku bunga apabila data menunjukkan inflasi terus mereda.

Namun, laporan ketenagakerjaan terbaru mengubah kembali perhitungan pasar. Perekonomian AS tercatat menambah 162 ribu lapangan pekerjaan pada Agustus, sekitar tiga kali lipat dari perkiraan 53 ribu dan menjadi pertumbuhan pekerjaan terkuat sejak Maret.

Data Juli juga direvisi. Jika sebelumnya dilaporkan kehilangan 23 ribu pekerjaan, angka tersebut kemudian direvisi menjadi kenaikan 21 ribu. Tingkat pengangguran tetap berada di 4,1 persen.

Perubahan ekspektasi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury. Imbal hasil tenor 30 tahun sempat mencapai sekitar 5,25 persen, sedangkan tenor 10 tahun berada di sekitar 4,80 persen sebelum kembali turun dari level tertingginya.

"Bagi emerging market, poin pentingnya bukan pada arah The Fed melainkan volatilitas itu sendiri, karena perubahan tajam dalam ekspektasi suku bunga AS menggerakkan mata uang dan harga obligasi secara global," kata Ashmore.

Dari dalam negeri, tekanan datang dari inflasi. Inflasi tahunan Indonesia meningkat menjadi 3,19 persen pada Agustus, dari 2,88 persen pada Juli, dan sedikit lebih tinggi dari perkiraan.

Kenaikan terutama didorong kelompok pangan yang memberikan kontribusi lebih dari satu persentase poin. Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi permintaan musiman di sekitar Hari Kemerdekaan serta dimulainya kembali program makan sekolah.

Namun, perhatian Ashmore justru tertuju pada inflasi inti yang meningkat menjadi 2,92 persen, level tertinggi sejak Maret 2023.

"Yang lebih signifikan adalah inflasi inti naik menjadi 2,92 persen, tertinggi sejak Maret 2023," imbuh Ashmore.

Di tengah perkembangan tersebut, parlemen menyetujui pengangkatan Destry Damayanti sebagai gubernur Bank Indonesia pada 1 September. Pengangkatan tersebut sekaligus mengakhiri ketidakpastian kepemimpinan bank sentral yang berlangsung selama sekitar dua bulan setelah gubernur sebelumnya meninggalkan jabatan pada Juli.

Ashmore menilai stabilnya kepemimpinan bank sentral menjadi salah satu faktor yang mendukung aset Indonesia. Selain itu, Rupiah yang menguat ke sekitar Rp17.637 per Dolar AS serta membaiknya data ekonomi China, sebagai mitra dagang terbesar Indonesia, turut memberikan sentimen positif terhadap pasar saham.

Pergerakan saham dan obligasi pun berjalan berlawanan. Ekuitas menjadi kelas aset yang mencatat kinerja lebih baik, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun meningkat menjadi 7,117 persen dari sekitar 7 persen.

Menurut Ashmore, kenaikan imbal hasil obligasi Indonesia lebih banyak mencerminkan perkembangan global dibandingkan faktor domestik. Meski demikian, inflasi Indonesia yang lebih tinggi turut menambah tekanan.

Data ketenagakerjaan AS yang kuat membuat pergerakan imbal hasil obligasi Indonesia dalam beberapa pekan ke depan kemungkinan masih sangat dipengaruhi kebijakan The Fed.

"Imbal hasil pada level ini masih menawarkan pendapatan yang dapat diandalkan, dan mata uang tetap berada dekat dengan Rp17.500 yang diasumsikan dalam rancangan anggaran pemerintah untuk 2027," kata Ashmore.

Secara keseluruhan, Ashmore menilai pekan lalu memberikan sinyal positif bagi pasar domestik meski situasi global semakin bergejolak. Kembalinya investor asing menjadi salah satu perkembangan yang paling diperhatikan, terutama karena terjadi ketika sejumlah saham masih menghadapi tekanan jual akibat rebalancing MSCI.

Meski demikian, Ashmore mengingatkan agar investor tidak terburu-buru menganggap kondisi tersebut sebagai awal tren baru. Pergerakan selama satu pekan belum cukup untuk memastikan perubahan tren, sementara harga minyak masih sangat sensitif terhadap perkembangan konflik di sekitar Selat Hormuz.

"Pendekatan kami tetap tidak berubah, dengan mengutamakan perusahaan yang likuid dan transparan dengan fundamental yang kuat, disertai obligasi berkualitas baik yang menawarkan pendapatan yang dapat diandalkan, yang dimiliki dalam kombinasi wilayah dan kelas aset yang terdiversifikasi," tegas Ashmore.

Memasuki pekan ini, perhatian pasar akan kembali tertuju pada data inflasi AS. Data tersebut dinilai menjadi salah satu penentu utama menjelang keputusan The Fed pada 16 September. rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA