Salah satu saham yang mencuri perhatian adalah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA). Saham maskapai pelat merah tersebut terkoreksi 5,08 persen ke level 56, lebih dalam dibandingkan pelemahan indeks sektor transportasi dan logistik (IDXTRANS) yang turun 1,85 persen.
GIAA dibuka di level 59, sempat naik ke 60, sebelum kemudian bergerak turun hingga 56. Level tersebut sekaligus menjadi harga terendah dan penutupan perdagangan.
Tekanan terhadap GIAA berlangsung di tengah aktivitas transaksi yang meningkat.
Pantauan RMOL berdasarkan data bursa, sebanyak 74,81 juta saham GIAA diperdagangkan dengan nilai transaksi sekitar Rp4,32 miliar dalam 2.640 kali transaksi. Selain itu, terdapat volume transaksi negosiasi sebanyak 4,4 juta saham.
Aktivitas perdagangan GIAA pada Jumat juga meningkat dibandingkan sehari sebelumnya. Pada 24 September, volume transaksi tercatat 37,16 juta saham dengan nilai sekitar Rp2,22 miliar. Saham GIAA saat itu ditutup di level 59.
Dengan demikian, volume perdagangan GIAA pada Jumat hampir dua kali lipat dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya, ketika harga saham justru berakhir turun 5,08 persen.
Pelemahan lebih dalam terjadi pada sektor perindustrian. Indeks sektor perindustrian (IDXINDUST) menjadi sektor dengan koreksi terdalam, yakni 2,52 persen. Saham CTTH dan PTMP bahkan mencatat penurunan hingga batas auto rejection bawah (ARB), masing-masing sekitar 15 persen dan 14,8 persen.
Sektor infrastruktur juga tidak luput dari tekanan. Indeks sektor infrastruktur (IDXINFRA) anjlok 2,22 persen. Saham BREN, yang menjadi salah satu emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di sektor tersebut sekitar Rp408 triliun, turun 1,61 persen ke level 3.050.
Secara keseluruhan, penutupan perdagangan Jumat menunjukkan tekanan yang merata di pasar saham domestik. Pelemahan IHSG sebesar 0,9 persen berlangsung bersamaan dengan koreksi seluruh indeks sektoral.
BERITA TERKAIT: