Wall Street Tertekan, Harga Minyak Melonjak di Tengah Ketegangan AS-Iran

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Selasa, 01 September 2026, 07:55 WIB
Wall Street Tertekan, Harga Minyak Melonjak di Tengah Ketegangan AS-Iran
Ilustrasi (Artificial Intelligence)
Kecil Besar
rmol news logo Wall Street mengakhiri perdagangan Senin 31 Agustus 2026 waktu setempat, di zona merah. Lonjakan harga minyak mentah kembali menjadi tekanan bagi pasar saham Amerika Serikat (AS) karena memunculkan kekhawatiran inflasi dan membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko.

Dow Jones Industrial Average turun 374,09 poin atau 0,70 persen menjadi 53.185,90. S&P 500 melemah 25,62 poin atau 0,33 persen ke level 7.686,14. Sementara Nasdaq Composite turun 31,53 poin atau 0,12 persen menjadi 26.370,89.

Pelemahan terjadi ketika harga minyak mentah melonjak akibat meningkatnya kembali ketegangan antara AS dan Iran. Kenaikan harga energi dikhawatirkan kembali mendorong inflasi sehingga mempersempit ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk melonggarkan kebijakan suku bunga.

Tekanan juga terlihat di pasar obligasi. Imbal hasil Treasury AS naik seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi. Investor kini menanti arah kebijakan The Fed dalam pertemuan September, terlebih setelah pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole pada Jumat lalu dinilai bernada hawkish.

Berdasarkan CME FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang lebih dari 65 persen bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan September. Perubahan ekspektasi suku bunga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi valuasi saham sekaligus sentimen investor.

Meski perdagangan terakhir Agustus ditutup melemah, ketiga indeks utama Wall Street tetap mencatat kinerja positif sepanjang bulan tersebut. Nasdaq mencatat kenaikan bulanan terbesar, ditopang minat investor terhadap saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI). Dow Jones juga membukukan kenaikan bulanan untuk kelima kalinya secara berturut-turut.

Di tengah tekanan pasar, saham sektor energi justru menguat mengikuti kenaikan harga minyak. Saham Halliburton naik 1,9 persen, sedangkan Valero Energy menguat 1,9 persen.

Sebaliknya, sektor utilitas tertekan. Saham PG&E anjlok 20,1 persen, menjadi penurunan harian terbesarnya dalam lebih dari enam tahun. Penurunan terjadi setelah perubahan rancangan undang-undang di Senat California dinilai belum banyak menyelesaikan persoalan kewajiban operator jaringan listrik terkait kebakaran hutan.

Secara keseluruhan, saham yang melemah di New York Stock Exchange (NYSE) lebih banyak dibandingkan saham yang menguat dengan rasio 1,95 banding 1. Di Nasdaq, sebanyak 2.931 saham turun, sedangkan 1.859 saham menguat.

Volume perdagangan di bursa AS mencapai 15,65 miliar saham, sedikit di atas rata-rata 20 hari perdagangan terakhir sebesar 15,58 miliar saham. rmol news logo article


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA