Direktur Utama BRI Hery Gunadi mengatakan pertumbuhan laba tersebut ditopang fundamental perseroan yang tetap sehat dan prudent, sekaligus menjaga peran dalam mendukung perekonomian rakyat.
"Memang dari sisi ini kita melihat bahwa laba Rp31,2 triliun ini adalah pertumbuhan yang sangat kuat yaitu lebih dari 17 persen. Memang kita bangun dari fundamental yang sehat tetap prudent dan tetap support untuk ekonomi rakyat dan kami terus ya optimis bahwa ke depan akan juga lebih baik," kata Hery dalam konferensi pers virtual, Senin, 31 Agustus 2026.
Dari sisi aset, BRI mencatat total aset sebesar Rp2.352 triliun atau meningkat 11,57 persen secara tahunan (yoy).
Kinerja pendapatan juga menunjukkan pertumbuhan. Pendapatan bunga tercatat Rp107,92 triliun, naik 5,41 persen yoy. Di sisi lain, perseroan berhasil menekan beban bunga sebesar 5,87 persen menjadi Rp27,39 triliun.
Efisiensi tersebut turut menopang pendapatan bunga bersih dan pendapatan jasa asuransi yang secara keseluruhan meningkat 10,13 persen yoy menjadi Rp81,18 triliun hingga akhir Juni 2026.
Pada fungsi intermediasi, total kredit dan pembiayaan secara konsolidasi tumbuh 16,2 persen yoy menjadi Rp1.646 triliun. Penyaluran kredit tersebut tetap didominasi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan porsi mencapai 75,1 persen, meski secara tahunan tumbuh 8,6 persen.
Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) BRI mencapai Rp1.581 triliun, tumbuh 6,7 persen yoy. Komposisi dana murah atau current account savings account (CASA) mencapai 67,6 persen dengan pertumbuhan 10,1 persen secara tahunan.
Pada saat yang sama, kualitas kredit BRI tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross turun menjadi 3,15 persen. Sementara NPL net tercatat naik tipis menjadi 1,04 persen dari 0,99 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
BERITA TERKAIT: