Bagi Indonesia, kondisi ini menuntut reformasi dan penguatan sumber-sumber pertumbuhan domestik.
Ekonom UOB, Enrico Tanuwijaya, menilai Indonesia perlu memberi perhatian lebih besar pada kelas menengah-atas yang menjadi motor utama konsumsi. Meski kelompok middle to high-income earner hanya mencakup sekitar 24 persen populasi, kontribusinya mencapai 56 persen terhadap konsumsi.
“Dari 280 juta manusia di Indonesia, yang dinamakan middle to high-income earner itu sekitar 24 persenan yang paling atas. Tapi by spending, mereka contribute 56 persen,” kata Enrico dalam acara UOB Media Editors Circle 2026 bertajuk "Powering Indonesia's Next Engine of Growth", di Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2026.
Menurut Enrico, tantangannya adalah pertumbuhan PDB dalam beberapa kuartal terakhir belum sepenuhnya ditopang oleh konsumsi masyarakat. Ia menyoroti pelemahan survei dunia usaha, khususnya pada sektor padat karya, yang berpotensi menekan daya beli kelas menengah.
Di sisi lain, Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar dari sektor keuangan dan digital. Enrico mencatat penetrasi kredit Indonesia baru sekitar 39 persen, sementara penggunaan pembayaran digital juga masih berada di kisaran 40-an persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa inklusi keuangan dan digitalisasi masih jauh dari titik jenuh.
“Penetrasi rendah, kapitalisasi low, digitalisasi under-potential,” katanya.
Karena itu, menurut Enrico, agenda reformasi tidak cukup hanya berfokus pada satu sektor. Sustainability, konektivitas, transisi energi, transformasi digital, hingga penguatan kelas menengah perlu berjalan beriringan.
Di tengah dunia yang semakin volatil, Indonesia memiliki peluang besar untuk tumbuh lebih tinggi, asal mampu menghidupkan kembali konsumsi kelas menengah sekaligus membuka potensi ekonomi yang masih belum tergarap, terutama melalui perluasan akses kredit dan percepatan digitalisasi.
BERITA TERKAIT: