UNVR saat ini menjalankan restrukturisasi portofolio dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah pelepasan bisnis es krim senilai Rp7 triliun pada Desember 2025, yang berdampak pada penyelesaian pembayaran PPN sebesar Rp770 miliar pada Semester I-2026.
Tahap kedua terealisasi pada Maret 2026 melalui penjualan bisnis teh SariWangi kepada Grup Djarum senilai Rp1,50 triliun. Transaksi tersebut menghasilkan keuntungan bersih setelah pajak sebesar Rp870,27 miliar. Secara keseluruhan, bisnis teh menyumbang laba dari operasi yang dihentikan sebesar Rp887,86 miliar, yang berasal dari hasil operasional dua bulan pertama serta keuntungan penjualan aset. Sementara itu, tahap ketiga berupa rencana penggabungan bisnis segmen makanan dengan McCormick & Company masih dalam proses evaluasi dan ditargetkan selesai pada pertengahan 2027.
Di luar kontribusi penjualan aset, kinerja operasional inti UNVR masih tumbuh terbatas. Biaya pemasaran turun tipis menjadi Rp3,67 triliun, namun beban administrasi naik 19,52 persen menjadi Rp1,67 triliun akibat biaya transformasi organisasi dan penataan ulang rantai pasok. Kondisi tersebut membuat laba usaha hanya meningkat 1,89 persen menjadi Rp2,59 triliun, sementara margin laba usaha turun menjadi 15,31 persen.
Meski demikian, laba bersih dari operasional inti masih tumbuh 10,23 persen menjadi Rp2,08 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh penurunan beban keuangan sebesar 78,22 persen serta pengelolaan kas yang lebih efisien.
BERITA TERKAIT: