Celios: Konsolidasi BUMN Jadi 250 Perusahaan Kurang Realistis

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/hani-fatunnisa-1'>HANI FATUNNISA</a>
LAPORAN: HANI FATUNNISA
  • Minggu, 28 Juni 2026, 20:47 WIB
Celios: Konsolidasi BUMN Jadi 250 Perusahaan Kurang Realistis
Gedung Danantara (Foto: RMOL/Alifia Dwi Ramandhita)
rmol news logo Rencana pemerintah memangkas jumlah BUMN dari 1.000 menjadi sekitar 250 perusahaan menuai kritik dari kalangan ekonom. 

Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, mengatakan hingga kini belum terlihat kejelasan mengenai arah dan mekanisme konsolidasi BUMN, meskipun wacana tersebut telah bergulir sejak pembentukan Danantara.

Selain itu, langkah merampingkan BUMN berpotensi menimbulkan pemutusan hubungan kerja (PHK) di tengah kondisi lapangan pekerjaan yang masih terbatas. 

Apalagi menurut Bhima, dalam proses konsolidasi tersebut, Danantara belum terlihat melakukan diskusi dengan serikat pekerja BUMN dan anak usaha BUMN.

"Rencana konsolidasi jadi 250 BUMN kurang realistis, pertama menimbulkan ekses PHK massal, disaat lapangan kerja sedang sulit dicari. Pemangkasan pegawai BUMN, bonus dan insentif yang berkurang jadi konsekuensinya," jelasnya kepada RMOL, Minggu, 28 Juni 2026.

Selain persoalan tenaga kerja, Bhima juga menyoroti risiko lain yang dapat muncul dari penggabungan aset perusahaan pelat merah. 

Menurutnya, BUMN yang selama ini memiliki kinerja sehat justru bisa terbebani oleh perusahaan yang memiliki utang besar dan performa negatif. 

Di sisi lain, proses konsolidasi juga tidak sederhana karena masih terdapat BUMN berbentuk Perum yang memerlukan penyesuaian regulasi lebih lanjut. 

"Fakta bahwa tidak semua BUMN berbentuk PT melainkan Perum. Perlu revisi UU BUMN lagi, dan tentu menimbulkan ketidakpastian bagi partner investasi," jelasnya.

Belum lagi adanya kepemilikan saham silang dan keterlibatan investor swasta dalam berbagai skema usaha patungan berpotensi menimbulkan gejolak di pasar saham.

"Belum tentu konsolidasi bisa membuat BUMN efektif dan sehat. Masalah terletak pada pemilihan pucuk direksi dan komisaris. Selama kompetensi dan titip jabatan masih terjadi, tidak akan merubah apapun. Yang sehat justru jadi sakit," pungkas Bhima.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA