Harga Minyak Dunia Naik Tipis di Tengah Keterangan Iran-Israel

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Selasa, 09 Juni 2026, 09:35 WIB
Harga Minyak Dunia Naik Tipis di Tengah Keterangan Iran-Israel
Ilustrasi (Artificial Inteligence)
rmol news logo Harga minyak dunia kembali menguat di tengah ketegangan Iran dan Israel, meskipun kedua negara menyatakan telah menghentikan serangan satu sama lain setelah adanya seruan dari Presiden AS, Donald Trump.

Pada penutupan perdagangan Senin, 8 Juni, waktu AS, harga minyak mentah Brent naik 1,16 Dolar AS atau 1,3 persen menjadi 94,25 Dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,76 Dolar AS atau 0,8 persen menjadi 91,30 Dolar AS per barel.

Sejak konflik di Timur Tengah meningkat lebih dari 100 hari lalu, harga Brent telah melonjak sekitar 31 persen, sedangkan WTI naik sekitar 37 persen. Pada April lalu, harga Brent bahkan sempat menembus level 126 Dolar AS per barel.

Kenaikan harga minyak kali ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global setelah Israel kembali melancarkan serangan ke Iran dan Lebanon.

Israel mengklaim telah menyerang sebuah fasilitas petrokimia di barat daya Iran yang disebut digunakan untuk memproduksi rudal balistik. Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Iran menyatakan telah menyerang fasilitas serupa milik Israel di kota Haifa.

Ketegangan tersebut terjadi setelah Israel juga menyerang basis Hizbullah di Beirut pada akhir pekan lalu. Iran berulang kali menegaskan bahwa setiap kesepakatan dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik harus mencakup penghentian operasi militer Israel di Lebanon.

Faktor utama yang membuat harga minyak tetap tinggi adalah kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran energi di Selat Hormuz. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan gas alam cair (LNG) setiap hari melewati jalur strategis tersebut.

Kekhawatiran pasar semakin meningkat setelah Duta Besar Iran untuk Moskow menyatakan Selat Hormuz tetap dibuka, tetapi akan beroperasi berdasarkan aturan yang ditetapkan Iran dan Oman, termasuk kemungkinan penerapan biaya transit bagi kapal yang melintas.

Selain itu, Komandan Pasukan Quds Iran, Esmail Qaani, menyatakan negaranya akan membentuk sabuk keamanan baru yang membentang dari Selat Hormuz hingga Selat Bab el-Mandeb di dekat Yaman, serta mencakup wilayah Teluk hingga Laut Merah.

Di saat yang sama, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengumumkan akan melarang kapal-kapal yang memiliki hubungan dengan Israel melintas di Laut Merah. Langkah ini menambah kekhawatiran terhadap kelancaran pengiriman energi dan perdagangan global.

Di tengah kekhawatiran pasokan global, kelompok produsen minyak OPEC+ pada Minggu menyepakati kenaikan target produksi minyak untuk keempat kalinya dalam empat bulan terakhir.

Namun, sejumlah analis menilai keputusan tersebut tidak akan memberikan dampak besar terhadap pasokan minyak dunia. Sebab, banyak anggota OPEC+ belum mampu memenuhi target produksi mereka.

Sementara itu, Arab Saudi juga kembali memangkas harga jual resmi minyak mentah ke pasar Asia untuk pengiriman Juli, menandakan masih adanya upaya menjaga daya saing di tengah gejolak pasar energi global. rmol news logo article
EDITOR: RENI ERINA

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA