Pada perdagangan Selasa, 4 Agustus 2026, waktu AS, harga minyak mentah Brent ditutup turun 4,41 Dolar AS atau 5,3 persen ke level 79,36 Dolar AS per barel, terendah sejak 13 Juli. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merosot 4,57 Dolar AS atau 5,7 persen menjadi 75,77 Dolar AS per barel, juga merupakan level terendah dalam tiga pekan.
Sentimen utama yang menekan harga minyak berasal dari pernyataan pejabat AS dan Qatar yang mengindikasikan adanya kemajuan dalam pembicaraan terkait pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pembicaraan dengan Iran dan Oman mengenai peningkatan jumlah kapal yang dapat melintasi Selat Hormuz menunjukkan perkembangan positif. Namun, ia menegaskan bahwa kesepakatan belum rampung.
"Ada kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran dan Oman mengenai peningkatan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz, tetapi kesepakatan akhir belum tercapai," kata Rubio.
Sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga menyebut kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz berpeluang tercapai paling cepat pada Selasa atau Rabu.
Di saat yang sama, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, mengatakan upaya diplomatik untuk mengakhiri perang terus dilakukan. Kantor Emir Qatar juga mengungkapkan bahwa Emir Qatar dan Presiden AS Donald Trump telah membahas langkah-langkah untuk meredakan ketegangan serta menyelaraskan pandangan antara Washington dan Teheran.
Meski sentimen pasar mulai membaik, kondisi pasokan minyak belum sepenuhnya pulih. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb pada awal pekan dilaporkan masih relatif tidak berubah.
Sebelum perang pecah, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz. Gangguan di jalur strategis tersebut memaksa sejumlah negara produsen di Timur Tengah memangkas produksi minyak.
Goldman Sachs memperkirakan harga minyak Brent akan bergerak di kisaran 80-90 Dolar AS per barel hingga terdapat kepastian mengenai kesepakatan baru antara AS dan Iran atau justru terjadi eskalasi konflik yang lebih besar.
BERITA TERKAIT: