Pada penutupan perdagangan Kamis, 6 Agustus 2026, harga minyak mentah Brent ditutup naik 3,04 Dolar AS atau 3,83 persen menjadi 82,49 Dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 2,07 Dolar AS atau 2,75 persen ke 77,29 Dolar AS per barel.
Rancangan undang-undang yang tengah ditinjau komite parlemen Iran itu juga mengusulkan denda hingga 20 persen dari nilai muatan bagi kapal yang melanggar aturan tersebut. Kebijakan ini dinilai berpotensi meningkatkan risiko terhadap kelancaran pelayaran di Selat Hormuz, jalur yang sebelum konflik Iran pecah pada akhir Februari dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia setiap hari.
Pelaku pasar juga masih mencermati perkembangan negosiasi antara AS dan Iran. Menurut Dennis Kissler, Senior Vice President Trading BOK Financial, semakin lama penyelesaian konflik tertunda, semakin besar peluang harga minyak kembali naik karena kekhawatiran terhadap pasokan global tetap tinggi.
Sentimen bullish semakin menguat setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim melancarkan serangan rudal dan drone terhadap pasukan yang bersekutu dengan Arab Saudi di wilayah Marib dan Hadramout. Sebelumnya, Houthi juga mengaku menyerang dua kapal tanker minyak Saudi di Laut Merah dan Teluk Aden, meski belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Arab Saudi.
Di sisi lain, Arab Saudi memangkas sedikit harga jual resmi (Official Selling Price/OSP) minyak Arab Light untuk pasar Asia pada pengiriman September. Sementara itu, Rusia juga menghadapi gangguan setelah sebuah kilang minyak besar di wilayah Yaroslavl terbakar akibat serangan drone Ukraina, yang menambah kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global.
BERITA TERKAIT: