Angka ini melampaui rekor tiga tahunan pada April lalu, meski masih 18,2 persen di bawah puncak tertinggi sepanjang masa pada Maret 2022.
Kombinasi cuaca ekstrem akibat El Nino dan eskalasi perang di Iran serta Ukraina menjadi penyebab utama badai inflasi pangan baru ini, yang memicu anjloknya hasil panen dan melonjaknya biaya produksi.
Sektor serealia menjadi pendorong utama dengan kenaikan 3,4 persen secara bulanan. Kenaikan ini dipicu oleh melonjaknya harga gandum sebesar 5,8 persen akibat gelombang panas yang merusak tanaman di kawasan produsen utama serta ancaman gangguan jalur ekspor Laut Hitam.
Indeks minyak nabati menguat 2 persen ke posisi tertinggi sejak Juni 2022. Kenaikan harga minyak mentah dan tingginya permintaan biodiesel mendongkrak harga minyak sawit serta kedelai, kendati minyak bunga matahari dan rapeseed justru melorot. Sementara itu, komoditas gula melonjak 5,6 persen dipicu gangguan cuaca di Eropa dan Asia serta tingginya proyeksi kebutuhan etanol di Brasil.
Berbanding terbalik, indeks harga daging terkoreksi 2,8 persen dari rekor tertingginya pada Juni. Penurunan terjadi pada daging ayam, babi, dan sapi, walaupun harga daging domba sempat menembus rekor akibat ketatnya pasokan ekspor dari Oseania. Adapun sektor produk olahan susu (dairy) mencatatkan penurunan tipis sebesar 0,7 persen.
BERITA TERKAIT: