Setelah sempat mengalami fluktuasi tajam, Yen kini bergerak stabil dengan kecenderungan menguat tipis. Fokus pasar masih tertuju pada dugaan aksi "intervensi senyap" yang dilakukan otoritas Jepang untuk membendung pelemahan mata uangnya.
Yen tercatat naik 0,1 persen ke posisi 156,885 per Dolar AS. Jika ditarik dalam sebulan terakhir, Yen telah melesat sekitar 1,4 persen, dengan lonjakan paling signifikan terjadi Kamis lalu. Meski Tokyo masih bungkam, laporan Reuters menyebutkan bahwa otoritas Jepang diduga kuat telah melakukan aksi beli Yen—langkah intervensi pasar pertama dalam dua tahun terakhir.
Kekuatan Dolar AS sendiri terpantau mulai tertahan. Indeks Dolar (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, ditutup stabil di pasar uang New York pada akhir pekan lalu dan bertahan di posisi 98,144 hingga pagi ini.
Meski masih perkasa, dominasi dolar mulai dibayangi oleh spekulasi intervensi lanjutan dari Jepang, terutama di tengah tipisnya likuiditas pasar akibat libur Golden Week.
Para analis kini mempertanyakan seberapa efektif intervensi sepihak ini dalam menahan dominasi Dolar AS. Mahjabeen Zaman, Kepala Riset Valas ANZ Bank Sydney, menyoroti bahwa kondisi pasar saat ini cukup rawan karena Jepang sedang berada dalam libur Golden Week.
"Fokus utama pasar adalah apakah akan ada intervensi lanjutan, terutama karena likuiditas pasar lebih tipis saat libur. Jika Yen kembali melemah, peluang intervensi bilateral yang melibatkan Amerika Serikat bisa meningkat," jelas Zaman.
Pasar global juga bersikap waspada merespons pernyataan Presiden Donald Trump. Di tengah memanasnya konflik antara AS-Israel dan Iran, Trump menyatakan akan membuka jalur kapal di Selat Hormuz sebagai "gestur kemanusiaan".
Kabar ini memberikan sedikit ruang napas bagi mata uang berisiko; Dolar Australia naik ke 0,7211 Dolar AS, dan Dolar Selandia Baru ke level 0,5905 Dolar AS. Pasar Australia kini bersiap menghadapi potensi kenaikan suku bunga RBA ke 4,35 persen esok hari guna meredam inflasi akibat lonjakan biaya energi dari perang Iran.
Di Eropa, mata uang utama cenderung menguat tipis. Euro naik ke 1,1730 Dolar AS setelah Jerman mencoba berdiplomasi dengan Trump untuk membatalkan ancaman tarif otomotif 25 persen.
Sementara itu, Poundsterling Inggris bertahan di 1,3586 Dolar AS, menunjukkan stabilitas relatif meski peta geopolitik dunia masih penuh dengan ketidakpastian.
Di Indonesia, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS menguat sangat tipis. Berdasarkan data Bloomberg, Rupiah sedang diperdagangkan di level Rp17.333 per Dolar AS, menguat 4 poin atau 0,02 persen dibandingkan penutupan Jumat 1 Mei 2026 yang berada di Rp17.337 per Dolar AS.
BERITA TERKAIT: