Investor kini bersikap waspada menanti arah kebijakan suku bunga Federal Reserve di bawah calon nakhoda baru, Kevin Warsh.
Meski sempat menyentuh rekor tertinggi pekan lalu, emas spot melandai 1,5 persen ke posisi 4.793,97 Dolar AS per ons seiring menguatnya Greenback.
Dolar yang menguat membuat emas lebih mahal bagi pembeli global, terutama saat pasar mencerna profil Warsh yang dikenal lebih menyukai perampingan neraca bank sentral. Namun, teka-teki mengenai seberapa agresif Warsh akan memangkas bunga atau mendorong "perubahan rezim" di The Fed masih menjadi tanda tanya besar bagi pelaku pasar.
Di sisi lain, data ekonomi AS menunjukkan kenaikan harga produsen paling signifikan dalam lima bulan terakhir pada Desember, yang dipicu oleh dampak tarif impor. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa inflasi akan bertahan tinggi, sehingga The Fed berpotensi menahan suku bunga lebih lama. Meski demikian, harapan masih ada; investor tetap memprediksi setidaknya dua kali pemangkasan bunga pada 2026 yang dapat kembali memoles daya tarik logam mulia.
Kondisi berbeda terlihat pada perak spot yang justru melesat 1,6 perseb ke 85,98 Dolar AS per ons setelah pulih dari titik terendahnya. Sementara itu, logam lainnya seperti platinum dan paladium mengikuti jejak emas dengan bergerak di zona merah.
BERITA TERKAIT: