"Penetapan harga BBM UmÂum jenis Pertamax, Pertamax Plus, Pertamax Turbo, PertamÂina Dex, Dexlite dan Pertalite merupakan kebijakan korporasi Pertamina yang peninjauannya dilakukan secara berkala," unÂgkap Vice President Corporate Communication PT Pertamina Wianda Pusponegoro di JaÂkarta, kemarin.
Dengan kenaikan harga tersebut, dipaparkan Wianda, untuk DKI Jakarta, dan seluruh provinsi di Jawa-Bali harga Pertamax ditetapkan sebesar Rp 8.050 per liter dari semula Rp 7.750 per liter. Harga PerÂtalite naik menjadi Rp 7.350 per liter dari sebelumnya Rp 7.050 per liter. Harga PerÂtamina Dex dilepas di harga Rp 8.400 per liter untuk wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat serta Rp 8.500 per liter untuk DI Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kemudian, Dexlite yang menÂjadi pilihan baru untuk produk diesel ditetapkan menjadi Rp 7.200 per liter untuk Jawa- Bali-Nusa Tenggara.
Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan memÂproyeksi, kenaikan harga BBM nonsubsidi akan mendorong peningkatan penggunaan preÂmium. Karena, selisih harga harga BBM nonsubsidi denÂgan premium kini semakin jauh. "Dengan pertalite saja selisihnya cukup jauh, apalÂagi dibandingkan pertamax. Menurut saya implikasinya secara otomatis akan terjadi migrasi dari pertalite atau pertamax ke premium. Apalagi daya beli masyarakat rendah," ujarnya kepada
Rakyat MerdeÂka, kemarin.
Seperti diketahui, harga premium hanya Rp 6.450 per liter untuk penugasan di luar wilayah Jawa Madura Bali (Jamali), dan Rp 6.550 per liter untuk di wilayah Jamali.
Mamit mengatakan, tingÂginya permintaan terhadap premium akan mendorong pemerintah menaikkan harga premium. Karena jika tidak, Pertamina akan menderita keruÂgian. Menurutnya, tanpa kenaiÂkan, BUMN minyak tersebut bakal menderita kerugian sekiÂtar Rp 20 triliun. "Jika ditamÂbah migrasi dari penggunaan pertamax ke premium maka kerugian akan makin besar," terangnya. ***
BERITA TERKAIT: