"Kuota bajaj di DKI sebanyak 14.924. Tetapi sampai saat ini yang beroperasi 13 ribuan. Dengan kebijakan bahwa bajaj harus gas atau yang biru, kami memberikan kesempatan sampai akhir Desember 2016, bajaj merah harus ganti dengan bajaj biru," kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Andri Yansyah, di Balai Kota DKI Jakarta, kemarin.
Andri menjelaskan, pihaknya akan memberikan seluruh kuota bajaj 14.924 jika semua bajaj telah menggunakan BBG. "Masih ada 300 bajaj merah yang akan beralih jadi bajaj biru. Kita berproses, agar tahun 2017 seluruh bajaj di Jakarta menggunakan gas. Setelah itu, kami buka kuota sampai 14 ribu unit," jelas Andri.
Di tempat yang sama, Plt Gubernur DKI Jakarta, Sumarsono menganggap bajaj sebagai cagar budaya Jakarta. Karena itu, pemerintah provinsi tidak akan menghapus bajaj di Jakarta.
"Jakarta tidak lepas dari bajaj. Sebenarnya bajaj sebagai moda transportasi semacam cagar budaya. Ciri khas Jakarta ada bajaj. Kalau itu dihilangkan, nilai budayannya juga hilang. Jadi kita modernisasi dengan fasilitas yang lebih baik," ucap Sumarsono.
Dia menambahkan, bajaj BBG merupakan bentuk upaya pembangunan yang ramah lingkungan. Selain itu, peremajaan armada bajaj ditujukan untuk meningkatkan kenyamanan penumpang.
"Tidak akan menggulungtikarkan semua, tidak ada penghapusan bajaj. Yang ada adalah penyesuaian atas desakan pembangunan yang lebih ramah lingkungan, itu intiÂnya. Sekaligus tuntutan memberi pelayanan terbaik pada customer. Bajaj merah itu sudah lama dan kedaluwarsa, jadi modernisasi denÂgan bajaj biru yang gas. Harapannya bisa memberi pelayanan terbaik," ujar Sumarsono.
Nah, khalayak netizen meresons program tersebut pro dan kontra. Kalangan yang pro mengami arguÂmen Pemprov DKI Jakarta, semenÂtara yang kontra menilai pergantian unit bajaj memberatkan pemilik.
Di antara yang pro adalah pengguÂna Twitter dengan akun @Kamil09. Dia mendukung penghapusan 'bajaj merah' yang berbahan berbahan bakar solar karena polusi udara, "Bagus. Karena asap dan suara bisingnya sudah membuat pusing pengguna jalan lainnya."
Akun @Istighfar313 mengatakan, untuk kepentingan banyak orang, 'bajaj merah' sudah seharusnya beralih ke 'bajaj biru' yang menggunakan BBG.
"Harus didukung kalau untuk kebaikan. Memang dilematis untuk pengemudi bajaj. Tapi kondisi bajaj merah udah kronis. Harus dimodernisasi," cuitnya.
Akun @dharma123 menyarankan, untuk bisa bersaing dengan angkutan lain, sebaiknya Pemprov DKI menÂgelola bajaj dengan sistem online. Supaya bajaj dapat bersaing dengan angkutan berbasis aplikasi online lain. "Bajaj harusnya dibuat kayak Go-Jek atau Grab," sarannya.
Akun @sandalilang menceritakan pengalaman pahitnya menggunakan bajaj. Menurut dia, pelayanan yang kurang baik, serta tarif mahal akan menggerus transportasi roda tiga tersebut. "Kapok naik bajaj, mahal. Sopirnya tukang tipu-tipu. Bagaimana bisa bersaing dengan lainnya?"
Senada dikeluhkan akun @crotalemk1, "Naik bajaj mahal abis, ongÂkosnya bisa sampe 2 kali lipatnya naik Gojek/Grab/Uber sekali jalan," tulis akun @crotalemk1.
Netizen @ira-1 meminta Pemprov DKI Jakarta menertibkan seluruh transportasi umum penyebab lalu lints Ibu Kota macet dan polusi.
"Jangan hanya bajaj yang ditertÂibkan, namun angkot yang kian menjamur turut ditertibkan, karena banyak yang ngawur dan memasuki jalan utama," harapnya.
Banyak juga netizen kurang setuju dengan program tersebut. Di antaranÂya, ada netizen yang mengingatkan Pemprov DKIuntuk memberikan solusi bagi pengemudi bajaj merah. Karena butuh biaya mahal membeli bajaj baru berbahan bakar gas.
"Ditertibkan boleh, tapi kasih modal atau berikan bajaj biru. Jangan ditertibkan, tapi matiin penghasilan orang. Nggak semua bisa beralih pakai bajaj biru," saran netizen @ alphard101.
Akun @zidnii menceritakan kekecewaannya menumpang bajaj biru, yang digadang-gadang dapat mengurangi polusi. Alih-alih mengÂgunakan BBG, bajaj biru malah ditemukan diisi premium.
"Di salah satu pom bensin di Jakarta pernah lihat banyak bajaj biru yang klaim paki BBG, antre isi premium. Bajaj BBG dicitrain juga?" cuitnya.
Selain itu, akun @ibnoethorieq menyarankan Pemprov DKI juga meÂlestrikan operasional oplet dan bemo sebagai sebagai angkutan umum khas Jakarta menjadi cagar budaya.
"Bemo dan opelet yang banyak bikin kenangan tentang Jakarta. Nggak usah ditambah nggak apa-apa, yang penting ada dan perlu dipertahankan," sarannya. ***
BERITA TERKAIT: