1. The first archipelagic State (Negara Nusantara Pertama), Sriwijaya;
2. The second archipelagic State (Negara Nusantara II), Majapahit
3. The third archipelagic State (Negara Nusantara III), Republik Indonesia setelah 1945.
Periode sejarah bangsa pelaut antara akhir kerajaan Majapahit (1478), kedatangan bangsa Portugis (1511), datangnya armada kapal Belanda (1596), sampai dengan berdirinya Republik Indonesia (1945) dicatat sebagai Sejarah Hitam bangsa. Hal ini dikarenakan tidak banyak perkembangan dunia maritim Nusantara di masa penjajah menguasai negeri ini sampai berakhirnya penjajahan Jepang pada 17 Agustus 1945.
Tapi ada masa di mana putra putri di kepulauan nusantara ini mengikrarkan SUMPAH PEMUDA pada tahun 1928, atau 17 tahun sebelum merdeka dimana salah satu isi ikrarnya adalah; Berbahasa Satu, Bahasa Indonesia. Pertanyaannya, kok bisa berbahasa satu, padahal sampai hari inipun setiap daerah memiliki bahasa yang berbeda, apalagi di masa itu sebelum adanya alat komunikasi elektronik? Jawabannya adalah; Para Pelaut.
Pelautlah yang bisa berkomunikasi dengan penduduk yang ada di pulau-pulau berbeda karena sifat pekerjaan mereka sebagai trader. Sebelum dunia mengenal KAMUS, maka pelautlah kamus berjalan itu, mereka bertukar bahasa, bertukar komoditas, budaya, dan tidak sedikit yang akhirnya menetap di pulau lain jika mereka bertemu jodoh.
Catatan dan bukti sejarah mengenai kejayaan bangsa pelaut masa lalu banyak ditemukan di artefak, candi dan jejak peninggalan nenek moyang Indonesia sampai Madagaskar, Persia, India, Asia Timur, Polinesia, dan Australia. Bahkan di relief candi Borobudur, selain kapal bercadik, juga didapati peninggalan ilmu astronomis nenek moyang kita berupa pahatan rasi bintang Ursa Mayor dengan 7 buah bulatan yang menggambarkan bintang dan diapit oleh bulan sabit dan matahari.
Dari mana mereka tahu rasi Ursa Mayor? karena rasi bintang ini hanya terlihat di lintang utara, sementara pulau jawa sendiri ada di lintang selatan. Inilah yang membuktikan bahwa mereka pernah pergi berlayar jauh ke pulau-pulau dan kerajaan di utara pada masa lalu.
Sayangnya pelaut di masa kini sangat berbeda dengan pelaut dimasa lalu, karena kondisi ekonomi dan perhatian pemerintah yang terlalu lama memunggungi laut. Dimasa sekarang pelaut banyak berjuang untuk sekedar kehidupan yang layak, gaji yang cukup serta hak-hak yang banyak terbelakang. Sejak dicanangkannya nawacita Presiden Jokowi yang tidak pernah terwujud, banyak anak muda berlomba-lomba menjadi pelaut dan sekolah pelayaran kebanjiran peminat baik di level akademi, SMK, sekolah negeri maupun swasta.
Di situlah terjadi pergeseran kualitas berbanding kuantitas dan Indonesia mulai kebanjiran pelaut yang tidak sebanding dengan jumlah serta ukuran kapal Indonesia. Sialnya juga, mereka tidak difokuskan misalnya menjadi pelaut untuk bisa menembus pasar internasional sehingga mulailah kita melihat perwira lulusan akademi/politeknik/sekolah tinggi berebut kapal dengan adik-adiknya yang lulusan SMK.
Imbas dari semua ini adalah supply tidak berbanding lurus dengan demandnya, sehingga daya tawar pelaut relative lemah. Keberadaan serikat Pelaut tertua KPI juga dirasa kurang berimbas kepada sektor up grading kualifikasi pelaut sehingga kita menang jumlah, dibanding kualitas. Ada 4 aktor penentu tingginya kualitas pelaut sebuah negara;
1. Pelaut itu sendiri (hasil seleksi yang baik)
2. Institusi Pendidikan yang menerapkan aturan ketat
3. Serikat Pelaut dan Organisasi Kepelautan seperti ikatan almamater dan organisasi profesi.
4. Pembina pelaut di pemerintahan, cq; Ditkapel.
Penyanderaan pelaut di beberapa negara yang pernah terjadi dan masih terjadi sampai saat ini adalah salah satu buah dari kurang bekerjanya ke 4 pilar tersebut secara bersinergi. Pelaut kurang dibekali peluru untuk menjadi pahlawan devisa keluar negeri, sehingga banyak yang terlantar walaupun masih lebih banyak yang sukses pada level yang lebih tinggi.
Peringatan Hari Pelaut Sedunia yang akan jatuh pada tanggal 25 Juni 2026, semoga bisa menjadi pengingat bahwa dari 10 devisa penyumbang APBN yang angkanya ada diatas 100 triliun setahunnya selain Sawit, Batubara dan Pariwisata adalah para pahlawan devisa ini. Selain pelaut, semua industri tersebut membutuhkan investasi sangat besar, baik PMDN, PMA atau Joint Venture. Devisa yang dihasilkan pelaut bersifat sustain, tidak akan habis selama ke 4 pilar di atas bisa bekerja sama dengan baik.
Pemerintah tidak perlu mengeluarkan apa-apa dari sekolahnya para penghasil devisa ini, semoga kedepannya mereka juga tidak dibebankan biaya besar lagi untuk menjadi pelaut yang berkualitas demi ikut membantu pemasukan negara. Majulah para pemersatu bangsa!
Capt. Zaenal Arifin Hasibuan
Praktisi maritim
BERITA TERKAIT: