Masuki Era Hilirisasi, Mendag Tolak Ekspor Kayu Log Dibuka

Industri Mebel & Kerajinan Butuh Pasokan

Jumat, 10 Oktober 2014, 09:57 WIB
Masuki Era Hilirisasi, Mendag Tolak Ekspor Kayu Log Dibuka
ilustrasi
rmol news logo Pemerintah diminta tetap mempertahankan pelarangan ekspor kayu log dan menolak usulan memperluas penampang kayu olahan.

Menteri Perdagangan (Men­dag) M Lutfi  menegaskan, diri­nya tidak setuju dengan eks­por kayu log. Saat ini eranya hilirisasi di semua sektor, tidak hanya di pertambangan tetapi juga di perkayuan.

“Semua komoditas akan di­pilah supaya memberikan nilai tambah dan keberlanjutan,” ujar Lutfi di Jakarta, kemarin.

Sekjen Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI) Abdul Sobur mengatakan, saat ini ada modus yang digagas oleh pelaku usaha hasil hutan di sektor hulu dengan mengu­sul­kan ran­cangan penampang kayu olahan yang bisa diekspor men­capai 16 ribu mm2 (mi­limeter persegi).

“Padahal aturan yang sudah ada sebesar 4.000 milimeter per­segi untuk kayu non merbau,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurut Sobur, jika rancangan luas penampang ini diloloskan, in­dustri hilir dipastikan akan ke­kurangan bahan baku. Hal ter­sebut itu menunjukkan sifat kontra pro­duktif dan tidak kon­sisten se­ma­ngat mening­katkan nilai tambah.

Padahal, salah satu syarat untuk meningkatkan industri me­bel dan kerajinan menjadi yang terbesar yakini adanya jaminan dan kepastian dari pemerintah.

“Kami sangat mendukung dengan kebijakan pemerintah yang menghentikan ekspor bahan baku. Apalagi Indonesia meru­pakan salah satu penghasil bahan baku,” katanya.

Karena itu, pihaknya sangat me­nentang keras rencana mem­buka kembali kran ekspor log kayu dan rotan. Dengan adanya ek­spor bahan baku tersebut me­lalui gelondongan atau modus lainnya akan berdampak pada penurunan suplai bahan baku ke industri, seperti yang terjadi pada industri rotan.

“Jika ekspor log dibuka maka industri mebel dan kerajinan akan gulung tikar,” tegasnya.

Sobur mengatakan, nilai ekspor mebel dan kerajinan tahun lalu mengalami peningkatan. Ta­pi, posisi di dunia mengalami pe­nurunan dari peringkat ke 13 ke posisi 18 dengan nilai 1,81 miliar dolar AS.

Karena itu, Sobur berharap Pre­siden terpilih Jokowi yang mempunyai background pengu­saha mebel bisa mendorong per­tumbuhan industri ini.   ***
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA