Menteri Perdagangan (MenÂdag) M Lutfi menegaskan, diriÂnya tidak setuju dengan eksÂpor kayu log. Saat ini eranya hilirisasi di semua sektor, tidak hanya di pertambangan tetapi juga di perkayuan.
“Semua komoditas akan diÂpilah supaya memberikan nilai tambah dan keberlanjutan,†ujar Lutfi di Jakarta, kemarin.
Sekjen Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI) Abdul Sobur mengatakan, saat ini ada modus yang digagas oleh pelaku usaha hasil hutan di sektor hulu dengan menguÂsulÂkan ranÂcangan penampang kayu olahan yang bisa diekspor menÂcapai 16 ribu mm2 (miÂlimeter persegi).
“Padahal aturan yang sudah ada sebesar 4.000 milimeter perÂsegi untuk kayu non merbau,†ujarnya kepada
Rakyat Merdeka, kemarin.
Menurut Sobur, jika rancangan luas penampang ini diloloskan, inÂdustri hilir dipastikan akan keÂkurangan bahan baku. Hal terÂsebut itu menunjukkan sifat kontra proÂduktif dan tidak konÂsisten seÂmaÂngat meningÂkatkan nilai tambah.
Padahal, salah satu syarat untuk meningkatkan industri meÂbel dan kerajinan menjadi yang terbesar yakini adanya jaminan dan kepastian dari pemerintah.
“Kami sangat mendukung dengan kebijakan pemerintah yang menghentikan ekspor bahan baku. Apalagi Indonesia meruÂpakan salah satu penghasil bahan baku,†katanya.
Karena itu, pihaknya sangat meÂnentang keras rencana memÂbuka kembali kran ekspor log kayu dan rotan. Dengan adanya ekÂspor bahan baku tersebut meÂlalui gelondongan atau modus lainnya akan berdampak pada penurunan suplai bahan baku ke industri, seperti yang terjadi pada industri rotan.
“Jika ekspor log dibuka maka industri mebel dan kerajinan akan gulung tikar,†tegasnya.
Sobur mengatakan, nilai ekspor mebel dan kerajinan tahun lalu mengalami peningkatan. TaÂpi, posisi di dunia mengalami peÂnurunan dari peringkat ke 13 ke posisi 18 dengan nilai 1,81 miliar dolar AS.
Karena itu, Sobur berharap PreÂsiden terpilih Jokowi yang mempunyai background penguÂsaha mebel bisa mendorong perÂtumbuhan industri ini. ***
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google