Awas, Produksi Karet Nasional Terancam Anjlok 200 Ribu Ton

Senin, 04 Maret 2013, 08:07 WIB
Awas, Produksi Karet Nasional Terancam Anjlok 200 Ribu Ton
ilustrasi, Karet
rmol news logo Produksi karet nasional ber­potensi anjlok. Hal ini ter­jadi ka­rena cuaca yang kurang ber­sahabat.

Sekretaris Gabungan Pengu­saha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Utara (Sumut) Edy Ir­wan­syah memprediksi, potensi penurunan produksi karet nasio­nal untuk periode Maret-Mei men­capai 200 ribu ton.

“Ada dua be­lahan wilayah di Indonesia yang menjadi sentra produksi karet. Yaitu wilayah In­donesia Utara dan Indonesia Se­latan. Kedua wi­layah itu kini me­ngala­mi ganggu cuaca,” katanya, akhir pekan lalu.

Untuk Indonesia utara seperti di Sumatera Utara, produksi ter­ganggu karena perubahan iklim menyebabkan tanaman karet gu­gur daun.

Sementara di wilayah Indo­nesia selatan seperti Suma­tera Selatan, Jambi dan Lam­pung, porduksi terganggu karena in­tensitas hujan yang tinggi.

“Sumatera Utara merupakan pro­dusen terbesar ke dua di In­do­nesia, tentu menurunnya pro­duk­si di wilayah itu mempe­ngaruhi pro­­duksi nasional,” kata Edy.

Menurutnya, dampak paling be­rat dari perubahan iklim diala­mi di sentra produksi di Sumatera Selatan. Sebab, ba­nyak pabrik karet berada pinggir Sungai Mu­si. Curah hu­jan yang tinggi mem­buat pabrik-pabrik ka­ret teren­dam banjir se­hingga sempat sam­pai berhenti berpro­duksi.

Persoalan yang dihadapi petani karet tidak hanya itu. Petani di Keca­ma­tan Rao Utara, Kabu­pa­ten Pasa­man, Sumatera Barat, Ismail mengungkapkan, kurang bersa­ha­batnya cuaca menye­babkan harga karet anjlok.

Biasanya harga karet Rp 10 ri­bu per kg, kini ha­nya dihargai  Rp 7 ribu per kg.

Penurunan har­ga disebab­kan kualitas karet yang dinilai kurang bagus.

“Sejak banjir bandang akses ke tempat kami sempat terputus se­lama seminggu. Hal ini membuat harga karet hasil kebun kami sa­ngat murah,” kata Ismail.

Yang tambah menyedihkan, lanjut Ismail, banjir mengham­bat produksi. Biasanya dalam satu minggu, setiap satu hektar lahan petani bisa menghasilkan 200 kg karet.

Tapi seka­rang hanya satu kali. Bahkan se­ring tidak sama sekali memanen karena karet di dalam cawan pe­nampungan ha­nyut terbawa air.

“Beban petani semakin berat karena pada musim hujan. Pe­nam­pung karet tidak mau men­datangi pemukiman petani. Se­hingga para petani harus mem­bawa sendiri ke pasar untuk men­jualnya,” curhat Ismail.

Hal ini, menurutnya, tentu me­­nambah bia­ya pengeluar­an. Dari rumah pe­tani ke pasar ber­jarak 25 kilo­meter. [Harian Rakyat Merdeka]


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA