Menurut Wacik, saat ini PLTS itu merupakan pemÂbangkit listrik tenaga surya terÂbeÂsar di IndoneÂsia. PLTS berkaÂpaÂsitas 1 MWp itu diÂperkirakan menghasilkan listrik sebesar 2.880.080,00 KWh dengan masa operasi 20 tahun.
Wacik menyatakan, pihaknya daÂlam waktu dekat akan membaÂngun PLTS yang lebih besar. “Akhir tahun ini kita akan mulai membangun. PLTS diperkirakan berkekuatan 10-50 Mw,†ujarnya.
Dia menegaskan, pemerintah seÂrius mengembangkan energi terbarukan seperti energi surya. Sebab, pembangkit listrik tidak bisa lagi ketergantungan dengan BBM. Apalagi, pasokan BBM suÂdah semakin menipis. Selain itu, harga listrik PLTS lebih muÂrah dibandingkan BBM.
“Dengan BBM, harga per Kwh listrik sebesar 40 sen dolar AS. SeÂdangkan dengan tenaga mataÂhari, harganya hanya 20 sen dolar AS,†katanya.
Politisi Demokrat itu meÂngaÂtakan, pengemÂbangan enerÂgi baÂru terbarukan tidak boleh berÂhenti karena setiap tahun kebuÂtuhan listrik pasti terus meÂningÂkat. SeÂkarang semua alat tekÂnologi seÂlalu mengguÂnaÂkan teÂnaga listrik. Mainan anak-anak saja sekarang pakai listrik.
Wacik menambahkan, selain PLTS, Kementerian ESDM ke deÂpan akan mengembangkan enerÂgi tenaga air dan tenaga paÂnas bumi.
Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi KemenÂterian ESDM Ridha Mulyana mengÂungkapkan, sepanjang taÂhun 2012, pihaknya sudah memÂbangun 17 PLTS. Enam di anÂtaraÂnya tersebar di Bali. Masing-maÂsing berkekuatan 4,8 Mw. 17 PLTS tersebut bisa mengaliri lisÂtrik kepada 1350 kepala keluarga.
“Semangat pembangunan PLTS merupakan kebijakan pemerinÂtah sebagai solusi melakukan subsidi listrik,†ujarnya.
Ridha menjelaskan, KementeÂrian ESDM membangun PLTS hanya menjalankan kebijakan pemerintah. Nantinya, PLTS yang sudah beroperasi dikelola oleh peÂmerintah daerah.
Gubernur Bali I Made Mangku Pastika berharap, pemerintah memÂbuat kebijakan yang mengÂharuskan dunia industri memaÂkai energi baru terbarukan untuk pengÂÂhematan BBM.
“Di negara tetangga sudah meÂlakukan keÂbijaÂkan itu. Kita haÂrapkan juga ada peraturan baru dari pemeÂrinÂtah. Hotel dan dunia industri haÂrus mengguÂnakan dan memakai energi baru terbarukan paling tiÂdak 10 perÂsen,†harap Pastika.
Selain PLTS di Karang Asem, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso II, bulan depan akan segera diresmikan. PLTA terÂsebut dibangun Kalla Group melalui PT Poso Energy.
PLTA Poso dibangun di tiga tempat, yakni PLTA Poso I dengan kapasitas 60 megawatt (MW), PLTA Poso II (195 MW) dan PLTA Poso III (320 MW). Proyek ketiga PLTA itu menelan inÂvesÂtasi sekitar Rp 4 triliun.
Direktur Pengembangan Bisnis Kalla Group Solihin Kalla meÂnarÂgetkan, PLTA Poso akan mamÂpu memenuhi 20 persen kebuÂtuhan listrik di Sulawesi. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: