Kepala SKK Migas Rudi RuÂbiandini mengaku sudah meÂnyamÂpaikan saran kepada MenÂteri ESDM Jero Wacik terkait akan habisnya kontrak Blok MaÂhakam.
“Kami sudah sampaikan sesuai fakta dan data,†kata Rudi di acaÂra penandatanganan kerja saÂma Trustee and Paying Agent AgreeÂment Blok Mahakam antara BNI dengan Pertamina, Total E&P Indonesie dan Inpex di kanÂtor SKK Migas, kemarin.
Menurut Rudi, sebaiknya daÂlam pengelolaan Blok MaÂhaÂkam oleh Pertamina dilakukan seÂcara bertahap dari yang kecil dulu baÂru menjadi besar. Masalah ini harus dilihat secara bijak dan tiÂdak bisa Pertamina langsung ambil sepeÂnuhnya.
“Ada portofolio yang harus diÂperÂhitungkan Pertamina, yaitu daÂna. Karena di sana tidak berÂmain seperti pabrik tahu. SeÂkaÂrang dikeluarkan, besok pasti daÂpat uang,†ujarnya.
Rudi mengatakan, sangat beÂriÂsiko jika semua dana Pertamina diÂmasukkan ke Blok Mahakam kaÂrena akan berdampak pada bisnis yang lain. Karena itu, sebaiknya dalam pengelolaan Blok MahaÂkam bekerja sama dengan Total.
“Pelan-pelan 1-5 tahun bareng. Setelah itu dilepas, seperti belajar nyeÂtir saja,†ujarnya seraya mengaÂtakan, setiap tahunnya Blok MaÂhakam menghasilkan Rp 25 triliun.
Rudi memaparkan, memang secara sumber daya manusia (SDM) Pertamina siap untuk meÂngelola blok itu. Apalagi, saat ini 98 persen pekerja di Blok MaÂhaÂkam adalah orang Indonesia. TekÂnologi juga bisa dibeli. Hanya saÂja semua tergantung pemeÂrinÂtah berapa persen Pertamina daÂpat jatah mengelola blok tersebut.
Di tempat yang sama, Direktur Utama Pertamina Karen AgusÂtiawan mengaku, pihaknya seÂdang melakukan negosiasi deÂngan pemerintah terkait pengeÂlolaan Blok Mahakam sesuai dengan kemampuan perusahaan minyak pelat merah tersebut.
“Seperti yang disampaikan KeÂpala SKK Migas, ini (pengeÂlolaan Blok Mahakam) seperti makan bubur ayam. Kita coba dulu, berapa yang kita mampu,†katanya.
Karen mengklaim, jika PertaÂmina sudah mampu mengelola nanti, pemerintah dengan sendiÂrinya akan memberikan 100 perÂsen pengelolaan tersebut. SeÂsuai dengan portofolio PertaÂmina, piÂhaknya tak hanya akan meÂngemÂbangkan blok migas dalam neÂgeri, tapi juga luar negeri.
Vice President Corporate ComÂmunication PT Pertamina Ali Mundakir menambahkan, pihakÂnya tetap meminta pengelolaan Blok Mahakam sepenuhnya diseÂrahkan kepada Pertamina. “SeÂkarang kan ada dua pilihan, apaÂkah diperpanjang atau diambil pemerintah kemudian diserahkan kepada PT Pertamina,†katanya.
PasÂca berÂakhirnya kontrak Total, pihaknya berharap, peÂmeÂrintah meÂngambil alih blok miÂgas yang ada di Kalimantan itu keÂmuÂdian diserahkan kepada PerÂtamina.
Head Department Media RelaÂtion Total E&P Indonesie KrisÂtanto Hartadi mengatakan, pihakÂnya siap bekerja sama dengan siapa saja dalam pengelolaan Blok Mahakam. Apalagi, sejak 2008 pihaknya sudah mengaÂjuÂkan perpanjangan kontrak peÂngelolaan blok migas tersebut kepada pemerintah. “Sekarang tinggal menunggu keputusan daÂri pemerintah,†jelas Hartadi.
Wacik Diminta Tidak Main-mainMenteri ESDM Jero Wacik dan Kepala SKK Migas Rudi RuÂbianÂdini diminta lengser karena diÂanggap melakukan kebohongan publik dengan membela kepenÂtingan asing dan menganggap Pertamina tidak mampu meÂngeÂlola Blok Mahakam.
Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (Iress) MarÂwan Batubara mengatakan, peÂmeÂÂrintah harus segera meÂmuÂtusÂkan pengeÂlolaan Blok MaÂhaÂkam.
“PertaÂmina harus jadi pengeÂloÂlanya,†kata Marwan saat melaÂkukan aksi damai menuntut keÂdaulatan migas di depan GeÂdung Kementerian ESDM, kemarin.
Ia mengungkapkan, meskipun nanti Pertamina mengundang operator lain termasuk Total E&P Indonesie dan Inpex untuk melaÂkukan pengelolaan bersama itu tiÂdak masalah asalkan peruÂsahaan asing itu bayar.
“Bayarnya di dunia migas itu normal, untuk 30 persen pengeÂlolaan mereka harus bayar 350 juta hingga 1 miliar dolar AS. BuÂkan angka yang kecil,†tuturnya.
Marwan menganggap jika blok itu diserahkan kepada asing, apaÂlagi menjadi operator, maka keÂrugian negara bisa puÂluhan bahÂkan ratusan triliun doÂlar AS hingÂga blok itu habis.
Dia juga meminta pemerintah transparan tentang potensi caÂdangan yang ada. Sebab, makin besar cadangan maka makin beÂsar biaya akuisisi. Kalau hal itu tidak diumumkan, makin besar pula potensi korupsi.
Ketua Aliansi Masyarakat KaÂlimantan Timur (Kaltim) WahÂdiyat menambahkan, masyarakat Kaltim dengan tegas menolak perÂpanjangan kontrak antara peÂmerintah dengan perusahaan asing. Karena di daerah pengeÂlolaan Blok Mahakam yang dilaÂkukan oleh Total E&P Indonesie dan Inpex itu, rata-rata rakyatnya berada di garis kemiskinan.
“Kaltim ingin dilibatkan dalam pengelolaannya. Apabila Jero dan Rudi main-main dan tetap memÂperÂpanjang pengelolaan Blok Mahakam kepada asing, maka rakyat Kaltim akan menduduki blok produksi itu secara sparatis. Kami akan tahan semua proÂduksi,†ancamnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: