Menteri Perindustrian MS Hidayat kemarin menggelar perÂtemuan tertutup dengan Kansai Economic Federation, sebuah asosiasi pengusaha asal Jepang. Pertemuan tersebut berlangsung sekitar 75 menit. Salah satu yang dibicarakan dalam perteÂmuan tersebut yaitu niat peruÂsahaan-perusahaan asal negeri Sakura mengekspansi industrinya ke Indonesia.
“Mereka datang 40 orang yang mewakili 1.500 perusahaan, unÂtuk menjajaki investasi di IndoÂÂnesia, karena mereka akan reÂlokasi besar-besaran,†kata HidaÂyat usai pertemuan di KanÂtor Kementerian Perindustrian, Jalan Gatot Subroto, Jakarta.
Pemerintah menyambut baik rencana tersebut. Menurutnya, peÂÂmerintah siap menyediakan lahan seluas 3.000 hektar untuk kawasan industri. Kemungkinan lokasinya di Karawang, Jawa BaÂrat. Tahun ini mudah-mudaÂhan sudah bisa terealisasi.
Selain itu, pertemuan juga memÂÂbicarakan program pemÂbaÂngunan infrastruktur pemerinÂtah, yaitu pembangunan Great JaÂkarta, atau
Metropolitan Priority Area (MPA).
Salah satunya, pembangunan pelabuhan Cilamaya. Pelabuhan ini dibangun sebagai penunjang pelabuhan yang ada sekarang ini.
“Sebagai pelabuhan laut itu akan dipakai untuk menyalurkan komoditi ekspor impor domestik terutama dari Jepang,†lanjutnya.
Hidayat menuturkan, pemÂbaÂngunan MPA sudah disepakati
government to government (G to G) ketika pemerintah berkunjung ke Jepang akhir tahun lalu.
Dia menerangkan, pelabuhan Cilamaya nanti akan dibangun dengan sistem
Build Operation Transfer (BOT). Dengan kata lain, nantinya Jepang akan memÂbangun sekaligus mengoperasiÂkan dan dalam kurun waktu terÂtentu, proyek tersebut akan menÂjadi aset pemerintah Indonesia.
“Jadi dia yang bangun, dia yang mengoperasikan. Nanti dia transfer balik ke Indonesia sebaÂgai aset punya negara. Itu juga terÂjadi di negara lain. Nanti seÂkiÂtar 25-30 tahun, itu betul-betul
business to business,†jelasnya.
Ditargetkan, pada tahun ini proyek pelabuhan ini tersebut suÂdah bisa terealisasi. Sekadar inforÂÂmasi, program pemÂbanguÂnan MPA senilai Rp 410 triliun. Jepang akan membantu pendaÂnaannya serta pasokan bahan baku.
Chairman Kankeiren, Shosuke Mori mengatakan, kerja sama ekonomi dan industri tersebut merupakan bentuk komitmen kedua negara untuk terus menÂjalin kerjasama Jepang dengan Indonesia.
“Indonesia dan wilayah kami memiliki hubuungan yang sangat baik. Dan berdasarkan hubungan itu kami menjalin hubungan ekoÂnomi yang juga kuat. Saya berÂharap pertemuan ini bisa memÂbuat hubungan kita semakin menÂdalam,†imbuhnya.
Usai pertemuan ini, romboÂngan pengusaha Jepang ini akan menggelar pertemuan dengan Kamar Dagang Indonesia.
Wakil Sekjen Asosiasi PenguÂsaha Indonesia Franky Sibarani menilai positif rencana perusaÂhaan Jepang berinvestasi di IndoÂnesia. Karena investasi tersebut akan membawa dampak positif untuk pertumbuhan ekonomi.
Dia mengatakan, semakin banyaknya investor datang ke TaÂnah Air maka pemerintah harus secepatnya menyelesaikan peÂkerjaan rumahnya. Yaitu, pemÂbenahan infratruktur dan biroÂkrasi. “Jangan sampai masalah inÂÂvesÂtasi terkendala soal rumitÂnya perizinan,†pintanya.
Namun demikian, Franky mengÂingatkan, pemerintah tetap selektif. Dia berharap, investor yang datang ke Indonesia memÂbawa teknologi baru sehingga IndoÂnesia bisa belajar. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: