Anggota Komisi X DPR biÂdang Pendidikan dari Fraksi GolÂkar Zulfadhli meminta MenÂteri Nuh untuk tidak gegabah daÂlam memutuskan anggaran kuÂriÂkulum. Diakuinya, nilai anggarÂan sebesar Rp 2,4 triliun pun belum pernah disampaikan dan dibahas di DPR.
“Kenaikkan ini kesannya jadi buru-buru. Kita juga kaget, tiba-tiba ada angka itu. Padahal, terÂakhir waktu kita rapat nilainya nggak segitu, cuma sekitar Rp 600 miliar. Kalau sampai Rp 2,4 triliun naiknya jauh sekali,†cetus Zulfadhli saat dikontak
Rakyat Merdeka, kemarin.
Menurutnya, pembengkakan pos kurikulum ini akan memÂberikan potensi penyimpangan maupun masalah lainnya.
“Kita harusnya berkaca pada kasus Hambalang di Komisi X bidang olahraga. Sama seperti seÂkarang, tiba-tiba sudah ada angÂgaran proyeknya, tapi nggak perÂnah dibahas di DPR,†cetusnya.
Zulfadhli mengatakan, peruÂbahan kurikulum baru ini seÂbaikÂnya ditunda hingga 2014.
“Jadi biar persiapannya matang dulu. Percuma kalau buru-buru nanti malah menimbulkan maÂsalah baru,†sarannya.
Ia juga menuturkan, DPR akan segera melakukan pembahasan terkait anggaran tersebut dengan Kemendikbud pada Selasa (5/2) malam.
Anggota Komisi X DPR lainÂnya Raihan Iskandar meragukan kurikulum 2013 bisa berjalan deÂngan baik, jika nanti disetujui.
“Sekarang saja manajemen keÂuangannya sudah mulai nggak beres. Berubah-ubah terus,†tuÂtur Raihan beralasan.
Anggaran sebesar apa pun, lanÂjutnya, jika paparannya loÂgis, tiÂdaklah masalah. Namun, jika diÂsampaikan dengan tiba-tiba, bisa menimbulkan kecuriÂgaan berbaÂgai pihak.
“Kurikulum itu kan perubahan besar yang akan menentukan pendidikan anak bangsa ke deÂpan. Jika dalam pembahasannya saja tidak beres gimana mau berÂÂmanfaat. Anggaran ini harus diÂsampaikan dengan terang benÂderang,†cetusnya.
Mendikbud Muhammad Nuh berkilah, seluruh kegiatan dan anggaran pendidikan telah dibaÂhas bersama dengan Komisi X DPR termasuk didalamnya terÂkait langsung dengan kurikulum.
“Tidak mungkin membuat angÂgaran tanpa pembahasan dengan Komisi X DPR karena ini AngÂgaran Pendapatan dan BeÂlanja Negara (APBN),†cetus bekas Rektor ITS Surabaya ini.
“Tidak perlu khawatir ada ‘HamÂbalangisasi’ dalan pengaÂjuan anggaran terÂseÂbut. Kita tidak ingin menamÂbah perÂkara,†imbuh Nuh.
Penggunaan anggaran terbeÂsar, jelasnya, digunakan untuk pengÂgadaan buku sebanyak 72,8 juta eksemplar senilai Rp 1,2 triÂliun. SeÂmentara untuk pelatihan guru Rp 1,09 triliun.
Harga satuan buku termasuk untuk pencetakan dan pengiriman untuk jenjang SD sekitar Rp 7-8 ribu, sedangkan untuk SMP dan SMA Rp 17-20 ribu.
“Pelatihan guru tak hanya unÂtuk tahun ini saja, yang akan meÂngajar di 2014 juga dilatih. PeÂlatihan diÂlakukan selama lima hari terÂmasuk biaya makan,†terang Mendikbud.
Nuh menegaskan, imÂpleÂmenÂtasi awal kurikulum dilaÂkuÂkan bertahap. Untuk jenjang SD keÂlas 1 dan 4 atau sebanyak 10 perÂsen populasi. Kenaikan anggaran kuÂrikulum sebesar Rp 2,491 triÂliun untuk memenuhi pos-pos penÂdidikan.
Anggaran tersebut tersusun atas anggaran melekat sebanyak Rp 1,740 triliun (69,9 persen) dan anggaran tambahan sebanyak Rp 751,4 miliar (30,1 persen).
Dia merinci, anggaran melekat bersumber dari APBN Rp 991,8 miliar. Dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Rp 748,5 miliar. Dana itu untuk pelatihan guru dan pengaÂdaan buku. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: