Pengusaha berharap suku bunga pinjaman perbankan bisa ditekan di bawah 10 persen. Penetapan suku bunga acuan (BI rate) dianggap hanya mengamankan target inflasi tahun ini.
Koordinator Ketua Dewan PeÂngurus Nasional Asosiasi PeÂngÂusaha Indonesia (Apindo) Chris Kanter mengatakan, suku bunga acuan yang diÂtetapÂkan Bank Indonesia (BI) seÂsuai konÂdisi ekonomi.
Namun, yang patut dipertaÂnyakan, meÂngapa dengan BI rate yang renÂdah tersebut, perbankan masih menetapkan suku bunga pinjaman (kredit) hingga di atas 10 persen.
“Dengan berbagai alasan spread (selisih bunga bank dan BI rate) yang diambil perbankan saat ini masih sangat tinggi sehingga suÂku bunga pinjaman masih daÂlam belasan. Yakni 14-17 persen. ItuÂlah yang masih diÂrasa berat baÂgi dunia usaha,†keluh Chris keÂpada Rakyat MerÂdeka, kemarin.
Dari hiÂtunganÂnya, dengan buÂnga kredit 17 persen, maka perÂbanÂkan meÂnikÂmati keuntungan bunga pinjaÂman hingga 11,25 persen.
Chris berharap, penetapan BI rate sebesar 5,75 persen bisa meÂneÂkan bunga pinjaman hingga di bawah 10 persen. Hal itu, menuÂrutnya, penting untuk memastiÂkan kondisi dunia usaha agar terus memberikan hasil posisif di tengah kondisi keuangan global yang tidak menentu.
“Kami harap suku bunga pinjaÂman bisa ditekan lagi. BI sebagai Bank Sentral diharapkan mampu mengimbau perbankan kita untuk lebih prudent (berÂhati-hati) daÂlam mengelola risk management-nya agar tidak banyak spread yang diÂtamÂbahkan pada suku buÂnga pinjaÂman,†jelasnya.
Sementara bagi ekonom Lana Soelistianingsih, langkah BI mempertahankan BI rate 5,75 persen itu sudah tepat.
“Kondisi inflasi cukup aman dan ekspekÂtasi inflasi selama tiga bulan ke depan diperkirakan tetap aman. Jadi menurut saya sudah tepat, terutama untuk memÂperÂtahankan target inflasi hingÂga akÂhir 2012 ini,†ujar Lana.
Mengani pelemahan rupiah saat ini, menurut Lana, karena keÂnaikan kebijakan untuk mendoÂrong ekspor dan menurunkan imÂpor. Dikatakan, dipertahankanÂnya BI rate yang diiringi tetap tingÂginya konsumsinya masyaÂraÂkat, bisa menopang pertumÂbuhan ekonomi hingga akhir tahun seÂbesar 6,3 persen.
EkoÂnom Standard Chartered Bank (Stanchart) Fauzi Ichsan menyatakan, level BI rate di 5,75 perÂsen masih sesuai ekspektasi inflasi tahunan sebesar 4,5 perÂsen, sehingga otoritas moneter tidak perlu tergesa-gesa menaikÂkan standar bunga acuan.
Sedangkan bila pemerintah meÂneruskan niat untuk meÂnaikÂkan harga bahan bakar miÂnyak (BBM) bersubsidi, kata Ichsan, maka BI rate bisa dinaikkan.
“Penentunya BBM subsidi taÂhun depan. Kalau harga BBM naik, inÂflasi bisa melamÂbung sampai 7 persen. Kalau harga BBM tidak jadi naik, BI rate bisa diÂtahan terus,†katanya.
Sebagai informasi, Bank SenÂtral telah menahan BI rate di 5,75 persen sejak Februari lalu setelah sebelumnya terus meneÂkan BI rate dari kuartal III-2011 di 6,5 persen. Gubernur BI Darmin NaÂsution menyatakan, sebenarnya BI sudah memÂperÂtimÂbangkan penurunan BI rate tahun lalu.
“Sudah kita bikin, sudah kita turunkan tahun lalu. Sekarang kita tidak melihat perlu melaÂkukan itu,†ujar Darmin di GeÂdung BI Jakarta, Jumat (9/11).
Menurut Darmin, selama 10 bulan terakhir sejak Februari 2012, suku bunga acuan BI masih bertahan di level 5,75 persen. PadaÂhal, Februari 2011, posisi BI rate masih 6,75 persen dan OkÂtober 2011 turun 25 basis poin (bps) menjadi 6,5 persen.
Oktober lalu Bank Sentral KoÂrea Selatan (Korsel) memangÂkas suku bunga acuan sebesar 25 bps menÂjadi 2,75 persen. PaÂdahal, Korsel telah melakukan langkah serupa pada Juli lalu. SedangÂkan Australia memangÂkas suku buÂnganya sebesar 25 bps menÂjadi 3,25 persen. LangÂkah itu untuk mencegah perlamÂbatan ekonomi yang lebih daÂlam akibat krisis global. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: