OpenAI mengatakan ChatGPT for Teens dirancang agar remaja tetap bisa memanfaatkan AI untuk belajar dan berkreasi, tetapi dengan batasan yang lebih sesuai dengan tahap perkembangan mereka.
Versi ini menggabungkan sejumlah fitur yang sebelumnya telah diperkenalkan OpenAI, termasuk Mode Belajar yang membantu siswa mengerjakan soal dan memahami materi secara bertahap. Ada pula fitur prediksi usia dan sejumlah kontrol yang dapat digunakan orang tua.
Untuk mendukung aktivitas belajar, ChatGPT for Teens menyediakan pengingat pekerjaan rumah, kuis, visualisasi pembelajaran, serta Jam Belajar. Melalui fitur tersebut, orang tua atau remaja dapat menentukan kapan Mode Belajar aktif secara otomatis.
OpenAI juga menambahkan perlindungan yang dirancang untuk mengurangi kemungkinan remaja terpapar konten yang tidak sesuai dengan usia atau berpotensi membahayakan.
“Remaja seharusnya dapat menggunakan AI untuk belajar, berkreasi, dan bereksplorasi. Namun akses tersebut harus disertai dengan perlindungan yang mencerminkan tahap perkembangan mereka, memperkuat hubungan di dunia nyata, dan mendukung penggunaan yang sehat dari waktu ke waktu,” kata OpenAI dalam rilisnya, dikutip Rabu, 19 Agustus 2026.
Peluncuran ini terjadi di saat perusahaan teknologi menghadapi sorotan yang semakin besar mengenai dampak produk digital dan AI terhadap anak-anak serta remaja.
Pada saat yang hampir bersamaan, Meta menghadapi persidangan terkait tuduhan bahwa produknya dapat memicu perilaku adiktif pada anak-anak dan remaja. Kasus tersebut melibatkan koalisi 29 jaksa agung negara bagian AS yang menggugat perusahaan itu pada 2023.
OpenAI juga menghadapi pengawasan terkait keamanan produknya. Pada Juni, Jaksa Agung Florida James Uthmeier menggugat OpenAI dan CEO Sam Altman dengan tuduhan bahwa perusahaan sengaja merilis produk yang tidak aman dan dapat membahayakan pengguna.
Selain itu, OpenAI menghadapi sejumlah gugatan terkait kematian pengguna yang menuduh ChatGPT berperan dalam munculnya delusi berbahaya dan kasus bunuh diri.
BERITA TERKAIT: