Tiga tahun setelah penerbangan uji pertamanya, roket raksasa Starship dijadwalkan menjalani penerbangan uji coba ke-14 pada 28 September dengan misi ambisius: menempatkan tahap atas roket ke orbit Bumi untuk pertama kalinya sekaligus membawa 26 satelit Starlink generasi terbaru.
Peluncuran ini dijadwalkan berlangsung di fasilitas SpaceX di Texas, Amerika Serikat, pada pukul 07.15 pagi waktu setempat atau pukul 12.15 GMT.
Dengan estimasi durasi penerbangan sekitar 10 jam, misi ini dipandang sebagai tonggak sejarah yang sangat krusial dalam pengembangan roket super besar yang kelak diproyeksikan untuk mendukung misi berawak ke Bulan dan Mars.
Meskipun membawa misi besar, uji coba ini tetap dibayangi risiko tinggi mengingat beberapa penerbangan uji pendahulunya sempat berakhir dengan ledakan.
Dalam skenario penerbangan, SpaceX akan meluncurkan Starship ke jalur suborbital terlebih dahulu. Jika sistem berfungsi sesuai rencana, wahana akan melakukan pembakaran mesin kedua agar bisa memasuki orbit Bumi.
Targetnya adalah menempatkan wahana pada orbit nyaris melingkar di ketinggian sekitar 275 kilometer di atas permukaan Bumi dengan kecepatan luar biasa mencapai 28.000 km/jam.
Kathleen Curlee, seorang analis senior di Pusat Teknologi dan Keamanan Baru Universitas Georgetown, menjelaskan bahwa fase mencapai orbit merupakan bagian paling pelik karena roket harus menghadapi berbagai gaya serta perhitungan gravitasi yang kompleks.
Jika seluruh rangkaian uji coba berjalan sukses, Starship akan melanjutkan misinya untuk menyebarkan satelit demi memperluas jaringan internet global Starlink.
Perjalanan panjang roket ini nantinya akan ditutup dengan proses pendaratan jatuh ke Samudra Pasifik setelah berhasil mengelilingi Bumi sebanyak enam kali.
Tidak hanya fokus pada uji coba Starship, pekan ini SpaceX juga memiliki agenda peluncuran yang sangat padat dengan rencana tiga peluncuran roket tambahan, termasuk misi penerbangan yang membawa para astronot menuju Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
BERITA TERKAIT: