Indeks utama regional, STOXX 50 dan STOXX 600, kompak merosot lebih dari 1 persen dan menyentuh level terendah dalam tiga setengah bulan terakhir. Sektor keuangan memimpin pelemahan dengan saham perbankan anjlok lebih dari 3,5 persen, sementara sektor otomotif dan sumber daya dasar turut terkoreksi antara 1,5 persen hingga 2 persen.
Di tengah tren negatif ini, sektor teknologi menjadi salah satu sedikit pengecualian yang berhasil menguat, mengekor kinerja positif global menyusul proyeksi optimis dari Micron Technology.
Tekanan serupa juga melanda bursa utama di berbagai negara Eropa:
Di Prancis, CAC 40 merosot 1,6 persen dan ditutup pada level 7.835, terendah sejak akhir Maret. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran atas memburuknya keuangan publik setelah pemerintah Prancis mengajukan RUU anggaran yang bertujuan menekan defisit anggaran ke level 5 persen dari PDB melalui pemotongan pengeluaran sebesar 43 miliar euro. Imbal hasil obligasi OAT 10 tahun melonjak di atas 4,9 persen, mencapai posisi tertingginya sejak Juli 2002.
Indeks DAX 40 di Frankfurt ditutup melemah sekitar 1 persen di level 24.939, posisi terendah sejak 23 Juli. Pasar tertekan oleh kenaikan harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah serta meningkatnya inflasi regional yang menekan Bank Sentral Eropa (ECB) untuk mempertahankan suku bunga tinggi. Saham farmasi seperti Bayer (-5,5 persen) dan Volkswagen (-3,4 persen) memimpin kejatuhan sektor ini.
Di Inggris, indeks FTSE 100 terkoreksi lebih dari 1,5 persen ke level 10.432 akibat aksi jual masif di pasar global. Imbal hasil obligasi gilt 30 tahun sempat menembus level 6 persen untuk pertama kalinya sejak 1998, merespons tekanan internasional dari Prancis dan Amerika Serikat. Saham perbankan Inggris seperti NatWest (-5,2 persen) dan Lloyds (-4,4 persen) ikut tertekan, sementara saham energi seperti Shell dan BP justru melawan arus berkat kenaikan harga minyak.
Secara keseluruhan, sentimen kehati-hatian mendominasi pasar keuangan Eropa di awal kuartal keempat ini, seiring penyesuaian pelaku pasar terhadap risiko ekonomi makro global dan domestik yang kian ketat.
BERITA TERKAIT: